(Sekjen DPR RI/istimewa)
Sender.co.id – Direktur Eksekutif Erapol Politik (Erapol) Indonesia, Khafidlul Ulum menduga, ada ketakutan yang mendera pegawai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di balik kebijakan penghapusan fasilitas rumah dinas bagi anggota untuk periode 2024-2029.
Khafidlul Ulum menduga Kesetjenan DPR tampaknya tidak ingin
lagi terjerat masalah korupsi. Sebab belum lama ini Sekjen DPR, Indra Iskandar
terjerat korupsi pengadaan sarana kelengkapan jabatan Anggota DPR.
Seakan putar otak, fasilitas rumah dinas kini dialihkan menjadi tunjungan rumah
yang akan diberikan kepada 580 anggota DPR setiap bulan.
Dalam praktiknya, rumah dinas juga tidak semuanya dihuni langsung anggota DPR.
Banyak rumah jabatan anggota (RJA) justru dihuni staf dan keluarga. Sehingga
penggunaannya tidak tepat sasaran.
"Nah, Sekjen DPR tampaknya ingin mengalihkan anggaran yang selama ini
digunakan untuk perawatan dan operasional RJA menjadi tunjangan perumahan. Hal
itu lebih praktis dan mudah," ujarnya.
Kebijakan tersebut juga menjadi cara Kesetjenan DPR
memulihkan citranya setelah rusak karena ada kasus Indra Iskandar.
"Dengan peniadaan rumah dinas anggota dewan, Setjen DPR diharapkan bisa
lebih berhati-hati menggunakan keuangan negara," tutupnya.
Sedangkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPR RI, Indra Iskandar
sendiri mengatakan sejumlah permasalahan dihadapi penghuni Rumah Jabatan
Anggota (RJA) DPR di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, pada Senin (7/10).
"Kita coba lihat lagi beberapa rumah yng memang kondisinya lebih parah
atau parah," kata Indra saat peninjauan.
Menurutnya, keluhan terbanyak yang diterima melalui aplikasi pengaduan bernama
PERJAKA (Perawatan Rumah Jabatan Kalibata) adalah terkait kebocoran, serangan
rayap, dan banyaknya tikus di lingkungan RJA.
Setiap harinya, ada sekitar 15 hingga 20 laporan yang masuk. Masalah tersebut
terutama terasa ketika musim hujan, khususnya di bagian selatan dan timur
kompleks.
"Khususnya di musim hujan. Di sisi Selatan dan Timur itu banyak
kemungkinan kalau hujan agak besar itu keluhannya adalah memang sungai itu
sudah menyempit," kata Indra.
"Jadi pasti kalau hujan agak besar pasti air agak naik ke atas ke jalanan.
Dan kalau hujannya lebih besar lagi, masuk ke rumah tapi memang biasanya hanya
semata kaki lah," sambungnya.
Indra menambahkan bahwa situasi ini diperburuk oleh adanya sungai yang
menyempit di dekat kompleks RJA, sehingga jika curah hujan tinggi, air meluap
ke jalanan sekitar.
Terkait kondisi ini, Sekjen DPR mengakui perlunya revitalisasi besar-besaran.
Menurutnya, untuk memperbaiki RJA secara menyeluruh, tidak hanya bagian atap
tetapi juga struktur bangunan harus dibenahi.
"Kalau enggak gitu, khususnya pada musim hujan, itu juga mengganggu
konsentrasi juga buat anggota dewan yang bekerja," katanya.
Selain masalah internal, Indra juga menyebut adanya dampak dari keberadaan
tempat pembuangan sampah milik Pemprov DKI Jakarta yang berada di sisi selatan
RJA.
Menurutnya, saat angin berembus dari arah tersebut, bau menyengat seringkali
tercium di kawasan RJA. DPR RI telah beberapa kali menyampaikan keluhan ini
kepada Pemprov DKI, namun hingga kini belum ada penanganan yang memadai.
"Kami sudah bersurat bahwa itu salah satu keluhannya adalah pafa saat
angin-angin tertentu ke arah sini tuh bau sampahnya cukup kuat," ujar
Indra.
Lebih jauh, Indra berharap ada langkah perbaikan dari pihak terkait untuk
menciptakan kondisi yang lebih nyaman bagi para penghuni RJA.
"Saya kira itu salah satu ini aja, dampak yang selama ini memang belum
bisa kami selesaikan," tandasnya. (VE)
Komentar