Naskah I La Galigo. (DOK: IDN Times)
Sender.co.id - Indonesia memiliki kekayaan warisan budaya tulis yang sangat berharga, tidak hanya dari segi sejarah tetapi juga dari segi kesusastraan dan nilai spiritual. Salah satu contohnya adalah La Galigo, yang juga dikenal sebagai Sureq Galigo atau hanya Galigo. Kitab kuno ini, berbentuk puisi, berisi mitos penciptaan peradaban Bugis dan dianggap sebagai kitab suci oleh sebagian masyarakat Bugis yang menganut kepercayaan Tolotang.
Dikutip dari Indonesia.go.id, La Galigo dianggap sebagai teks suci yang memerlukan ritual khusus saat dibaca, seperti persembahan dan sesaji. Kitab ini awalnya merupakan tuturan lisan sebelum ditulis dalam bentuk puisi tradisional Bugis atau Lontara pada paruh pertama abad ke-19. Puisi ini memiliki bahasa yang indah dan kualitas sastra tinggi, dan tradisi pembacaannya dilakukan dengan menyanyikan puisi tersebut dalam bahasa Bugis, yang dikenal sebagai laoang atau selleang, biasanya dalam upacara adat.
Namun, penurunan pengetahuan tentang teks-teks kuno Bugis dan kurangnya penguasaan bahasa serta aksara Lontara mengancam kelestarian La Galigo. Aksara Lontara, yang dikenal dengan istilah lokal ‘ukiq sulappaq eppaq’ (huruf segiempat), diyakini merupakan turunan dari aksara Pallawa.
Untuk mengatasi ancaman terhadap pelestarian La Galigo, Indonesia dan Belanda mengusulkan agar La Galigo dimasukkan dalam daftar World Heritage UNESCO. Sejak 2011, La Galigo telah diakui oleh UNESCO sebagai Memory of the World, yang berarti tanggung jawab pelestarian naskah ini tidak hanya menjadi tugas masyarakat Bugis dan Bissu, tetapi juga negara sebagai pemangku kepentingan.
Menurut UNESCO, La Galigo berasal dari abad ke-14, meskipun usia sebenarnya bisa lebih tua. Meskipun La Galigo lebih bersifat mitologis daripada sejarah, teks ini memiliki pengaruh besar terhadap pandangan sejarawan tentang peradaban Bugis sebelum masuknya Islam. Ditulis dalam puisi bersuku lima, La Galigo menceritakan kisah penciptaan dunia dan manusia pertama yang tinggal di dunia.
Tokoh utama dalam La Galigo adalah Sawérigading, cucu Batara Guru, yang turun ke bumi dari dunia kosong. Manusia pertama ini turun di daerah Luwu dan anaknya, La Tiuleng, menjadi raja dengan gelar Batara Lattu’. Sawérigading dan saudara kembarnya, Wé Tenriabéng, terpisah sejak kecil dan bertemu lagi saat dewasa. Sawérigading jatuh cinta pada saudara kembarnya dan berniat menikahinya, tetapi terhalang oleh tabu incest. Sawérigading kemudian pergi ke China, di mana ia menikahi Wé Cudaiq, dan anak mereka, La Galigo, menjadi penguasa Luwuq.
La Galigo terkenal karena beberapa alasan. Pertama, teks ini terdiri dari puluhan episode dengan aturan sastra yang ketat, mencakup norma, budaya, silsilah dewa-dewa, dan asal-usul orang Bugis. Kedua, La Galigo ditemukan dalam berbagai versi dan tersebar di luar Sulawesi Selatan, termasuk di berbagai perpustakaan di Eropa dan Amerika. Ketiga, warisan budaya Bugis dalam La Galigo masih diterapkan dalam upacara adat, seperti ritual mappaliliq dan tradisi massureq atau maggaligo.
Keempat, setelah masuknya Islam, teks La Galigo mengalami fenomena intertekstual dengan penambahan unsur-unsur Islam tanpa menggeser kepercayaan lama. Kelima, La Galigo menarik perhatian internasional ketika sutradara avant-garde Robert Wilson mempresentasikan teks ini di panggung teater global, termasuk di Singapura, Eropa, Amerika Serikat, dan akhirnya di Indonesia dan Makassar pada 2011, tahun yang sama saat UNESCO mengakui La Galigo sebagai Memory of the World.
Terakhir, La Galigo merupakan salah satu karya sastra terpanjang di dunia, dengan sekitar 6.000 halaman folio atau 300.000 baris puisi, menjadikannya lebih panjang daripada epik India seperti Mahabharata dan Ramayana serta epik Yunani seperti karya Homerus. (DY)
Komentar