#ToneProud Kampanye yang Diluncurkan TECNO Untuk Perangi Bias Warna Kulit di Era Digital

Tazkiya Fuadah
06 November 2024 15:08 WIB

Sender.co.id - “Sebenarnya cantik, tapi sayang kulitmu gelap.” Kalimat tersebut masih sering terdengar di lingkungan masyarakat. Tanpa disadari, teknologi yang digunakan sehari-hari ikut memperkuat bias tersebut.

 

Contohnya, filter di media sosial yang otomatis memutihkan warna kulit atau kamera smartphone yang tidak selalu tepat dan akurat dalam merepresentasikan warna kulit. Padahal, warna kulit manusia sangat beragam. Ada yang terang dan ada pula yang gelap, dimana masing-masing memiliki keunikan dan keindahan tersendiri.

 

Penelitian yang dilakukan pada 2018 di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Universitas Stanford menemukan pada beberapa sistem kecerdasan buatan komersia adanya bias warna kulit. Bias tersebut tidak hanya terlihat pada tampilan di akhir gambar, tapi juga sudah terjadi sejak pengolahan data di dalam teknologi tersebut.

 

Anggun C Sasmi, musisi kelahiran Indonesia yang telah mendunia membagikan pengalaman pribadinya menerima diskriminasi warna kulit sejak awal kariernya.

 

"Saat saya memulai karier di Indonesia, saya tahu bahwa saya tidak dianggap cantik karena warna kulit saya," ungkap Anggun.

 

Penyanyi yang saat ini berdomisili di Prancis tersebut merasakan sendiri akibat adanya teknologi digital perubahan representasi kulitnya menjadi nyata. Ia baru menyadari hal tersebut saat putrinya memberi komentar pada sebuah foto panggungnya yang diunggah ulang.

 

“Putri saya bilang, 'Ya ampun, Mama cantik sekali, tapi kok jadi putih begitu?' Saya bahkan tidak menyadarinya. Saya sudah terlalu terbiasa melihat foto-foto saya di-retouch," jelas Anggun.

 

Bagi perempuan asal Jawa Tengah itu, warna kulit bukan sekadar tentang tampilan fisik. Namun, warna kulit menjadi bagian dari identitas budaya yang lebih besar.

 

"Ketika melihat diri saya di cermin, saya tidak hanya melihat orangtua saya. Saya melihat Indonesia dan saya ingin orang-orang tahu itu. Mereka tidak akan tahu (hal tersebut) jika foto-foto saya (bukan kondisi sebenarnya)," tegas Anggun.

 

Keberagaman warna kulit diperjuangkan melalui teknologi

 

Bias warna kulit dapat berdampak negatif dan menjadi masalah serius, termasuk menurunkan rasa percaya diri. Tidak sedikit algoritma visual, seperti filter foto dan pengenalan wajah, sering kali kurang akurat dalam mengenali kondisi asli kulit.

 

Oleh sebab itu, sangat penting bagi ilmuwan dan pengembang teknologi untuk mengumpulkan data yang lebih akurat, adil serta mengevaluasi hasilnya dengan metode yang baru. Dengan begitu, bisa mencerminkan semua warna kulit dan teknologi dapat lebih inklusif.

 

TECNO meluncurkan kampanye global #ToneProud di situs web khusus www.tecno-mobile.com/universaltone, sebagai merek teknologi yang mengedepankan inklusivitas. Dengan inisiatif ini mengajak masyarakat untuk mengeksplorasi dan merayakan keunikan warna kulit masing-masing sebagai bagian dari keberagaman manusia.

 

#ToneProud sebuah kampanye yang hadir dengan dukungan Universal Tone, teknologi pencitraan bertenaga AI dari TECNO dan diklaim paling canggih yang diluncurkan pada 2023. Dalam pengembangannya melibatkan riset kolaboratif dengan para akademisi ilmu warna dari berbagai universitas terkemuka di dunia.

 

Universal Tone memanfaatkan database warna kulit dengan cakupan dan variasi yang paling komprehensif di industri. Terdapat 268 patch warna kulit yang digunakan sebagai referensi untuk memastikan akurasi dalam merepresentasikan beragam warna kulit saat ini. Seiring dengan perkembangan kemam puan AI, jumlah patch tersebut akan terus bertambah.

 

Jack Guo, General Manager TECNO menyampaikan bahwa selama bertahun-tahun, TECNO telah memberikan perhatian besar pada riset konsumen, terutama terkait masalah misrepresentasi warna kulit yang sangat signifikan bagi pengguna di pasar berkembang.

 

"Melalui kampanye #ToneProud, kami berdiri bersama konsumen untuk mendorong inklusivitas yang lebih besar, sembari terus berinvestasi besar dalam riset dan pengembangan teknologi pencitraan untuk memberikan dampak nyata dalam mengatasi masalah ini," ujarnya.

 

Dalam kampanye #ToneProud, Anggun yang turut berpartisipasi menuturkan bahwa setiap individu perlu diingatkan tentang keindahan dan keunikan diri masing-masing.

 

Pelantun lagu “Snow on the Sahara” ini juga menekankan peran penting teknologi dalam mengubah persepsi masyarakat.

 

"Jika teknologi bisa membantu kita, seperti yang dilakukan ponsel TECNO, hal ini akan memudahkan kita mendobrak batasan dan mengubah persepsi serta mentalitas masyarakat," ucap Anggun.

 

Selain Anggun, kampanye ini juga melibatkan sejumlah selebritas global lain, seperti penyanyi Nigeria Johnny Drille, sineas Arab Saudi Fatima Al-Banawi, dan aktris Polandia Ewa K?pys.

 

Johny Drille berpendapat, keberagaman patch warna kulit dalam database TECNO mencerminkan komitmen brand untuk merayakan keunikan setiap individu. Di dunia yang kerap kali membatasi individu pada kategori sempit, teknologi Universal Tone mengingatkan bahwa setiap orang memiliki cerita unik yang patut diungkapkan. 

 

Tetap mencintai diri sendiri apa pun warna kulitmu, kamu unik dan istimewa! (TF)

Komentar