Usul Pembangunan Kasino Internasional, HIPMI dan Dispar Bali Berseberangan

Veridial
06 August 2024 06:13 WIB

 

Sender.co.id – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Provinsi Bali mengusulkan berdirinya kasino bertaraf internasional di Pulau Dewata tersebut. Kasino dianggap sebagai musuh natural bagi judi online.

 

Ketua Hipmi Bali Agung Bagus Pratiksa Linggih. Dengan diberangusnya judi online (judol) akan membuat peralihan ke judi offline, untuk itu dia mengusulkan agar di Bali dapat dibangun kasino bertaraf internasional.

 

”Kasino merupakan judi offline sehingga merupakan natural enemy (musuh natural) judi online,” ucap Agung Bagus Pratiksa Linggih.

 

Kasino dapat diperuntukkan bagi orang-orang yang mampu dan kaya. ”Ide pembangunan kasino nanti berupa kawasan, seperti ITDC, yang dibangun di kawasan miskin di Bali seperti di Kabupaten Karangasem, Buleleng, bisa juga di Jembrana atau Bangli sehingga pemerataan ekonomi bisa terjadi,” ujar Agung Bagus Pratiksa Linggih.

 

Pratiksa menambahkan, dengan kasino dibangun dalam kawasan tertentu, itu sekaligus agar dampak buruk terhadap adat dapat dikontrol.

 

”Harapan saya, nanti di kasino itu 50 persen manajemennya adalah orang Bali sehingga kita tidak menjadi penonton di negeri sendiri,” ujar Agung Bagus Pratiksa Linggih sembari mengatakan penghasilan yang didapat dari kasino bisa dipakai untuk pelestarian budaya dan mengelola sampah.

 

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Tjok Bagus Pemayun menyebut, terkait adanya usul pembangunan kasino di Pulau Dewata, sampai saat ini belum memungkinkan untuk direalisasikan.

 

”Usul itu (pembangunan kasino) belum memungkinkan karena UU Judi masih berlaku,” kata Tjok Pemayun di Denpasar, Senin (5/8).

 

Dia mengatakan, sebelumnya dalam suatu sosialisasi dan diskusi Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) ada juga pertanyaan terkait rencana pembangunan kasino dan dinyatakan belum dimungkinkan untuk diwujudkan.

 

”Yang jelas memang kita ini basic (dasarnya) budaya, sehingga pariwisata yang dikembangkan adalah pariwisata budaya. Bukan masalah tolak apa, ini pariwisata budaya,” ucap Tjok Bagus Pemayun. (*)

 

Tag

Komentar