Awas, Hobi Tidur Bisa Jadi Gangguan Hipersomnia

Putri Lailawati
04 November 2024 17:12 WIB

Sender.co.id - Meskipun mungkin terlihat sepele, kondisi "hobi tidur" ini mungkin terkait dengan gangguan tidur hipersomnia.

Menurut Healthline, hipersomnia adalah kondisi di mana seseorang mengalami rasa kantuk yang berlebihan, terutama di siang hari. Penderita juga dapat tertidur terlalu banyak pada malam hari.
Bagi orang dewasa, waktu tidur ideal adalah tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Namun, orang yang mengalami hipersomnia mungkin tidur lebih dari sebelas jam setiap hari, dan mereka masih merasa lelah dan tidak segar. Selain itu, hipersomnia dapat memengaruhi suasana hati dan kemampuan berpikir. Gejala yang paling umum dari kondisi ini termasuk gampang marah, kecemasan, rasa kantuk atau kelelahan yang terus-menerus, kesulitan berpikir atau berbicara, kesulitan mengingat, dan gelisah.

 Hipersomnia tidak hanya menyebabkan rasa lelah dan kelelahan yang kronis, tetapi juga dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Penderita hipersomnia sering kali mengalami kesulitan mempertahankan pekerjaan, hubungan pribadi, atau kewajiban sosial lainnya.

Hipersomnia terbagi atas dua tipe. Pertama, hipersomnia primer mencakup kondisi seperti narkolepsi, hipersomnia idiopatik, dan sindrom Kleine-Levin.
Kedua, hipersomnia sekunder adalah ketika kondisi ini disebabkan oleh kondisi medis yang mendasari, penggunaan obat-obatan atau penggunaan zat, atau bahkan sindrom tidur yang tidak memadai.

Akibatnya, solusi pengobatan untuk hipersomnia dapat bervariasi. Langkah-langkah dasar dapat mencakup mematuhi waktu tidur yang teratur dan menghindari zat-zat seperti alkohol yang dapat memengaruhi tidur serta kognisi.

Bagi orang dengan hipersomnia sekunder, menargetkan kondisi kesehatan yang mendasari adalah tujuan utama. Namun, orang dengan hipersomnia primer mungkin merasa lega dengan mengikuti rencana perawatan yang sama seperti untuk narkolepsi.

Meskipun hipersomnia tidak secara langsung terkait dengan risiko kesehatan yang merugikan seperti hipertensi atau diabetes seperti insomnia kronis, hipersomnia tetap berpotensi melemahkan.

Pasalnya, seseorang yang mengalami kantuk berlebihan secara terus-menerus akan mengalami gangguan kognitif yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dampaknya bisa dirasakan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari karir hingga hubungan pribadi. Bahkan rasa kantuk kronis bisa meningkatkan risiko kecelakaan seperti saat mengemudi, serta memperbesar kemungkinan tergelincir atau jatuh. (PL)

Komentar