Ilustrasi Tidur
Sender.co.id - Meskipun mungkin terlihat sepele, kondisi "hobi tidur" ini mungkin terkait dengan gangguan tidur hipersomnia.
Menurut Healthline, hipersomnia
adalah kondisi di mana seseorang mengalami rasa kantuk yang berlebihan,
terutama di siang hari. Penderita juga dapat tertidur terlalu banyak pada malam
hari.
Bagi orang dewasa, waktu tidur ideal adalah tujuh hingga sembilan jam setiap malam.
Namun, orang yang mengalami hipersomnia mungkin tidur lebih dari sebelas jam
setiap hari, dan mereka masih merasa lelah dan tidak segar. Selain itu, hipersomnia
dapat memengaruhi suasana hati dan kemampuan berpikir. Gejala yang paling umum dari
kondisi ini termasuk gampang marah, kecemasan, rasa kantuk atau kelelahan yang
terus-menerus, kesulitan berpikir atau berbicara, kesulitan mengingat, dan
gelisah.
Hipersomnia tidak hanya menyebabkan rasa lelah dan kelelahan yang kronis, tetapi juga dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Penderita hipersomnia sering kali mengalami kesulitan mempertahankan pekerjaan, hubungan pribadi, atau kewajiban sosial lainnya.
Hipersomnia terbagi atas dua tipe. Pertama, hipersomnia
primer mencakup kondisi seperti narkolepsi, hipersomnia idiopatik, dan sindrom
Kleine-Levin.
Kedua, hipersomnia sekunder adalah ketika kondisi ini disebabkan oleh kondisi
medis yang mendasari, penggunaan obat-obatan atau penggunaan zat, atau bahkan
sindrom tidur yang tidak memadai.
Akibatnya, solusi pengobatan untuk hipersomnia dapat bervariasi.
Langkah-langkah dasar dapat mencakup mematuhi waktu tidur yang teratur dan
menghindari zat-zat seperti alkohol yang dapat memengaruhi tidur serta kognisi.
Bagi orang dengan hipersomnia sekunder, menargetkan kondisi kesehatan yang
mendasari adalah tujuan utama. Namun, orang dengan hipersomnia primer mungkin
merasa lega dengan mengikuti rencana perawatan yang sama seperti untuk
narkolepsi.
Meskipun hipersomnia tidak secara langsung terkait dengan risiko kesehatan yang
merugikan seperti hipertensi atau diabetes seperti insomnia kronis, hipersomnia
tetap berpotensi melemahkan.
Pasalnya, seseorang yang mengalami kantuk berlebihan secara terus-menerus akan
mengalami gangguan kognitif yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dampaknya bisa dirasakan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari karir
hingga hubungan pribadi. Bahkan rasa kantuk kronis bisa meningkatkan risiko
kecelakaan seperti saat mengemudi, serta memperbesar kemungkinan tergelincir
atau jatuh. (PL)
Komentar