Sejumlah kapal tanker berada di kawasan Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan konflik yang berdampak pada jalur pelayaran global. (Foto: Reuters)
Sender.co.id - Iran kembali menutup Selat Hormuz pada Rabu (8/4/2026), hanya beberapa jam setelah sebelumnya menyepakati pembukaan jalur tersebut dalam kerangka gencatan senjata dengan Amerika Serikat.
Penutupan ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah serangan udara besar-besaran di Lebanon. Iran menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang baru saja dicapai.
Dilansir dari Associated Press, langkah Iran menutup kembali Selat Hormuz dipicu oleh serangan Israel terhadap target di Lebanon yang menewaskan ratusan orang dan melukai banyak lainnya.
Sejumlah laporan menyebut, serangan tersebut menargetkan kelompok Hizbullah di Beirut dan wilayah lain di Lebanon. Kondisi ini membuat situasi keamanan kawasan kembali memanas, meski sebelumnya telah ada kesepakatan penghentian sementara konflik.
“Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan di Lebanon,” demikian laporan yang dikutip dari Associated Press.
Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa konflik di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa operasi Israel di Lebanon merupakan konflik terpisah.
Namun, Iran menilai serangan tersebut tetap berkaitan dengan dinamika konflik yang lebih luas dan melibatkan sekutu Amerika Serikat di kawasan.
Akibat penutupan ini, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali terganggu. Jalur tersebut diketahui merupakan salah satu rute paling penting bagi distribusi energi global, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi kawasan tersebut.
Beberapa negara bahkan mulai bersiap melakukan langkah koordinasi untuk menjaga kelancaran pelayaran di wilayah tersebut. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut sekitar 15 negara tengah mempersiapkan upaya untuk memastikan akses kembali ke Selat Hormuz.
Penutupan kembali Selat Hormuz ini menunjukkan rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang baru saja dicapai, sekaligus meningkatkan kekhawatiran akan dampak lanjutan terhadap stabilitas kawasan dan pasar energi global.
Hingga saat ini, situasi masih berkembang dan berpotensi berubah seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. (wg/dv)
Komentar