Rakyat Miskin Kota di Lampung Meningkat, Rokok Penyumbang Terbesar Kedua Garis Kemiskinan

Veridial
14 July 2024 06:43 WIB

Sender.co.id - Jumlah penduduk miskin perkotaan di Provinsi Lampung berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2024 mengalami peningkatan 11,1 ribu orang di banding Maret 2023.

 

Pada Maret 2023 jumlah penduduk miskin perkotaan di Provinsi Lampung ada 232,96 ribu orang dan pada Maret 2024 menjadi 244,04 ribu orang. BPS Lampung mencatat setidaknya ada enam faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan selama periode Maret 2023 sampai Maret 2024.

 

Pertama, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2024 sebesar 4,12 persen atau turun 0,06 poin jika dibandingkan TPT Februari 2023 yang sebesar 4,18 persen. 

Kedua, Persentase Perubahan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2024 meningkat dibandingkan Maret 2023 yaitu sebesar 15,42.

 

Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Lampung tahun 2024 meningkat dibanding tahun 2023 (YoY) sebesar 3,03 persen.

 

Laju inflasi pada periode Maret 2023–Maret 2024 (YoY) sebesar 3,45 persen. Laju Inflasi dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan pokok seperti beras, cabai merah, telur ayam ras, dan gula pasir.

 

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tahun 2024 dibandingkan tahun 2023 (YoY) meningkat sebesar 4,67 persen. 

 

Untuk itu, bantuan sosial tetap diupayakan untuk mengurangi beban pengeluaran penduduk miskin. Pemanfaatan bansos Program Keluarga Harapan (PKH) Maret-April 2024 mencapai 98,82 persen.

 

 

Kepala BPS Lampung Atas Parlindungan Lubis mengatakan, persentase penduduk miskin pada Maret 2024 sebesar 10,69 persen, menurun.

0,42 persen poin terhadap Maret 2023 dan menurun 0,75 persen poin terhadap September 2022.

 

Secara umum, pada periode Maret 2005 sampai Maret 2024, tingkat kemiskinan di Lampung mengalami penurunan, baik dari sisi jumlah maupun persentase, kecuali pada tahun 2006, 2016, dan 2021.

 

Kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode 2006 dan 2016 terjadi setelah adanya kenaikan harga barang kebutuhan pokok sebagai akibat dari kenaikan harga bahan bakar minyak.

Sementara, kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin pada 2021 terjadi ketika ada pembatasan mobilitas penduduk saat pandemi Covid-19 melanda Lampung. 

Disampaikan jumlah penduduk miskin di Lampung pada Maret 2024 mencapai 941,23 ribu orang. Dibandingkan Maret 2023, jumlah penduduk miskin menurun 29,4 ribu orang. 

 

Sementara jika dibandingkan dengan September 2022, jumlah penduduk miskin menurun sebanyak 54,3 ribu orang.  Persentase penduduk miskin pada Maret 2024 tercatat sebesar 10,69 persen, menurun 0,42 persen poin terhadap Maret 2023 dan menurun 0,75 persen poin terhadap September 2022.  

 

Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode Maret 2023 sampai Maret 2024, jumlah penduduk miskin perkotaan naik sebesar 11,1 ribu orang. Sedangkan di perdesaan penduduk miskin turun sebesar 40,5 ribu orang. 

 

Persentase kemiskinan di perkotaan naik dari 8,02 persen menjadi 8,18 persen. Sementara itu, di perdesaan turun dari 12,65 persen menjadi 11,97 persen.  jumlah penduduk miskin di Lampung pada Maret 2024 mencapai 941,23 ribu orang. Dibandingkan Maret 2023, jumlah penduduk miskin menurun 29,4 ribu orang. 

 

jika dibandingkan dengan September 2022, jumlah penduduk miskin menurun sebanyak 54,3 ribu orang.  Persentase penduduk miskin pada Maret 2024 tercatat sebesar 10,69 persen, menurun 0,42 persen poin terhadap Maret 2023 dan menurun 0,75 persen poin terhadap September 2022.  

 

Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode Maret 2023 sampai Maret 2024, jumlah penduduk miskin perkotaan naik sebesar 11,1 ribu orang. Sedangkan di perdesaan penduduk miskin turun sebesar 40,5 ribu orang. 

 

Persentase kemiskinan di perkotaan naik dari 8,02 persen menjadi 8,18 persen. Sementara itu, di perdesaan turun dari 12,65 persen menjadi 11,97 persen.

Untuk garis kemiskinan, menurut Atas Parlindungan Lubis, pada Maret 2024 adalah sebesar Rp586.551,- per kapita per bulan. 

 

Dibandingkan Maret 2023, garis kemiskinan naik sebesar 4,93 persen. Sementara jika dibandingkan September 2022, terjadi kenaikan sebesar 7,31 persen. 

Dengan memperhatikan komponen garis kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), peranan komoditas makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas bukan makanan. 

 

Besarnya sumbangan GKM terhadap GK pada Maret 2024 di perkotaan sebesar 74,00 persen dan di perdesaan sebesar 75,16 persen. Pada Maret 2024, komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada GK, baik di perkotaan maupun di perdesaan, pada umumnya hampir sama. 

Beras masih memberi sumbangan terbesar, yakni sebesar 22,32 persen di perkotaan dan 24,28 persen di perdesaan.  Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK (13,09 persen diperkotaan dan 11,72 persen di perdesaan).

 

Komoditas lainnya adalah telur ayam ras (4,61 persen di perkotaan dan 3,98 persen di perdesaan), cabe rawit (2,40 persen di perkotaan dan 3,07 persen di perdesaan), roti (1,79 persen di perkotaan dan 2,40 persen di perdesaan), tempe(2,38 persen di perkotaan dan 2,20 persen di perdesaan), dan seterusnya. 

 

Komoditas bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar, baik pada GK perkotaan dan perdesaan, adalah perumahan (7,63 persen di perkotaan dan 7,43 persen di perdesaan), bensin (3,81 persen di perkotaan dan 4,78 persen di perdesaan), dan listrik (3,27 persen di perkotaan dan 2,36 persen di perdesaan). 

 

Selanjutnya adalah sumbangan dari pendidikan; perlengkapan mandi; perawatan kulit, muka, kuku, dan rambut; sabun cuci; serta pakaian jadi perempuan dewasa. 

Kemudian pada Maret 2024, rata-rata rumah tangga miskin di Provinsi Lampung memiliki 4,61 orang anggota rumah tangga. 

 

Dengan demikian, besarnya garis kemiskinan per rumah tangga secara rata-rata adalah sebesar Rp2.704.000,-/rumah tangga miskin/bulan. Naik sebesar 3,14 persen dibanding kondisi Maret 2023 yang sebesar Rp2.621.761,-/bulan. (*)

Komentar