RK – Suswono Didukung 12 Parpol, Pilkada Jakarta Selesai!

Veridial
20 August 2024 14:49 WIB


Sender.co.id - Deklarasi dukungan 12 partai politik kepada pasangan Ridwan Kamil (RK) dan Suswono menandakan Pilkada Jakarta sudah selesai sebelum pencoblosan.

 

"RK-Suswono resmi deklarasi cagub-cawagub Jakarta. Praktis Pilkada Jakarta sudah selesai. Semua tinggal prosedur administrasi kepilkadaan saja," kata Ketua Umum PKN, Anas Urbaningrum dikutip dari akun X pribadinya, Selasa (20/8).

Ia memandang, koalisi parpol pengusung RK-Suswono tidak menyediakan ruang politik untuk memunculkan pasangan calon alternatif. Koalisi ini memaksa rakyat Jakarta tidak mempunyai pilihan lain.

"Secara politik deklarasi hari ini bukan deklarasi pencalonan, tetapi sudah pernyataan kemenangan," jelasnya.

Anas menyadari, ada pasangan calon independen yang sudah diloloskan KPU, yakni Dharma Pongrekun-Kun Wardana. Namun kemunculan paslon independen ini diikuti dengan kontroversi pencatutan NIK KTP warga.

 

"Betul ada pasangan jalur perseorangan, tapi jelas bukan kompetitor yang kompetitif. Jadi, tinggal tunggu proses pengumuman kemenangan RK-Suswono dan bikin pesta 'Rawon' untuk rakyat Jakarta," tutupnya.

 

Sebelumnya, Anas juga berpendapat kalau dinamika politik Indonesia ke depan bakal diwarnai kekuatan yang minim oposisi. Koalisi pemerintah diprediksi akan besar dan terlihat dari gemuknya kabinet Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

 

Hal tersebut menyedot perhatian Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) Anas Urbaningrum. Menurut dia, itu terjadi akibat tingginya transaksional politik dalam Pemilu.
 
“Ketika politik makin padat modal dan pemilu kian berwajah lautan amplop, maka terminologi oposisi makin bikin ngeri. Menjadi hantu yang harus dihindar-jauhi,” ujar Anas dalam akun media X pribadinya.

Lanjut mantan politisi Demokrat tersebut, menjadi oposisi identik dengan minimnya proyek untuk mendanai aktivitas politik mendatang.

“Sebab menjadi oposisi lalu diartikan sebagai musim kemarau dan tempat yang asing dari sumber2 logistik atau percetakan amplop,” jelasnya.

Mantan Ketua Umum PB HMI itu juga menyoroti mentalitas oposis yang rentan karena tak mau ambil risiko menjadi sasaran tembak.

“Mentalitas oposisi ringkih karena dinilai “ora aji” dan “ora melu mukti”. Apalagi prakteknya, acapkali oposisi memang harus menyiapkan diri untuk diperlakukan tidak patut, dan bahkan “dikuyo-kuyo”,” ungkap Anas.

 

“Artinya, memilih oposisi adalah memasuki episode mimpi buruk politik. Tentu tidak ada partai dan atau politisi yang bercita-cita menekuni episode ini. Kecuali terpaksa,” pungkasnya. (*)

Komentar