Candi Borobudur, Salah Satu Peninggalan Pada Masa Kerajaan Mataram Kuno Selain Karya Sastra yang Masih Ada Hingga Kini
Sender.co.id - Babad Tanah Jawi adalah sebuah karya sastra berbahasa Jawa dalam bentuk tembang yang mencatat sejarah Pulau Jawa. Kitab ini menggambarkan sejarah para raja di Pulau Jawa dari era Hindu-Buddha hingga Mataram Islam, serta menyebutkan Nabi Adam dan nabi-nabi lainnya. Babad Tanah Jawi termasuk dalam kategori Historiografi Tradisional dan merupakan sumber penting untuk merekonstruksi sejarah Jawa.
Karya ini terdiri dari dua versi utama. Versi pertama ditulis oleh Carik Adilangu II, seorang juru tulis dari keraton Surakarta pada masa pemerintahan Pakubuwono I hingga Pakubuwono II, dan selesai pada tahun 1722. Versi kedua ditulis oleh Carik Tumenggung Tirtowiguno atas perintah Pakubuwono III dan selesai pada tahun 1788. Pada tahun 1874, ilmuwan Belanda Johannes Jacobus Meinsma menerbitkan Babad Tanah Jawi dalam bentuk prosa, dan W.L. Olthof kemudian mereproduksi versi Meinsma pada tahun 1941.
Babad Tanah Jawi mencakup sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa dari zaman Hindu-Buddha hingga masuknya Islam, serta silsilah para raja yang dihubungkan hingga Nabi Adam. Perbedaan antara dua versi tersebut terletak pada detail sejarah Jawa Kuno sebelum munculnya Mataram Islam; versi 1722 memberikan ringkasan singkat tentang Kerajaan Mataram Islam, sedangkan versi 1788 menjelaskan secara mendetail.
Berikut adalah daftar penguasa Jawa dari berbagai era:
Jawa Kuno:
Kerajaan Kadiri: Prabu Gendrayana, Prabu Jayapurusa, Prabu Sariwahana, Prabu Batara Aji Jayabaya, Prabu Jaya Amijaya, Prabu Jaya Amisena, Prabu Aji Pamasa.
Kerajaan Pengging: Prabu Pancadriya, Prabu Anglingdriya, Prabu Darmamaya.
Kerajaan Jenggala: Lembu Amiluhur, Raden Panji Kuda Laleyan, Prabu Banjaransari, Prabu Mundingsari, Prabu Sri Pamekas.
Kerajaan Majapahit: Raden Sesuruh, Raden Anom, Raden Adaningkung, Raden Hayam Wuruk, Raden Lembu Amisani, Raden Bratanjung, Raden Alit atau Prabu Brawijaya.
Jawa Pertengahan:
Kerajaan Demak: Raden Patah (1478 – 1518), Pati Unus (1518 – 1521), Trenggana (1521 – 1546), Sunan Prawata (1546 – 1547), Arya Panangsang (1547 - 1554).
Kerajaan Pajang: Jaka Tingkir (1568 – 1582), Arya Pangiri (1583 – 1586), Pangeran Benawa (1586 – 1587).
Kerajaan Mataram: Panembahan Senapati (1586 – 1601), Anyakrawati/Sunan Krapyak (1601 – 1613), Anyakrakusuma/Sultan Agung (1613 – 1645), Amangkurat I/Sunan Tegalarum (1645 – 1677), Amangkurat II/Sunan Amral (1680 – 1702), Amangkurat III/Sunan Mas (1702 – 1705), Pakubuwana I/Sunan Ngalaga (1705 – 1719), Amangkurat IV/Sunan Jawi (1719 – 1726), Pakubuwana II/Sunan Kumbul (1726 – 1742), Amangkurat V/Sunan Kuning (1742 – 1743).
Jawa Baru:
Kasunanan Surakarta: Pakubuwono II/Sunan Kumbul (1745 – 1749), Pakubuwono III (1749 – 1788), Pakubuwono IV/Sunan Bagus (1788 – 1820), Pakubuwono V/Sunan Sugih (1820 – 1823), Pakubuwono VI/Sunan Bangun Tapa (1823 – 1830), Pakubuwono VII (1830 – 1858), Pakubuwono VIII (1859 – 1861), Pakubuwono IX (1861 – 1893), Pakubuwono X (1893 – 1939), Pakubuwono XI (1939 – 1944), Pakubuwono XII (1944 – 2004), Pakubuwono XIII (2004 – sekarang).
Kesultanan Yogyakarta: Hamengkubuwono I/Pangeran Mangkubumi (1755 – 1792), Hamengkubuwono II/Sultan Sepuh (1792 – 1810), Hamengkubuwono III (1810 – 1811), Hamengkubuwono IV/Sultan Besiyar (1814 – 1823), Hamengkubuwono V (1823 – 1826), Hamengkubuwono VI (1855 – 1877), Hamengkubuwono VII/Sultan Sugih (1877 – 1921), Hamengkubuwono VIII (1921 – 1939), Hamengkubuwono IX (1940 – 1988), Hamengkubuwono X (1989 – sekarang).
Kadipaten Mangkunegaran: Mangkunegara I/Pangeran Sambernyawa (1757 – 1795), Mangkunegara II (1795 – 1835), Mangkunegara III (1835 – 1853), Mangkunegara IV (1853 – 1881), Mangkunegara V (1881 – 1896), Mangkunegara VI (1896 – 1916), Mangkunegara VII (1916 – 1944), Mangkunegara VIII (1944 – 1987), Mangkunegara IX (1987 – 2021). (DY)
Komentar