Cerita Rakyat 38 Provinsi, Sumatera Barat: Di Balik Nama Minangkabau

Divya Naila
19 September 2024 10:18 WIB

Sender.co.id - Suku Minangkabau adalah suku asli yang menjadi penduduk mayoritas di Provinsi Sumatera Barat. Dalam bahasa, "Minangkabau" berarti "menang kerbau." Nama ini berasal dari sebuah peristiwa di Kerajaan Pagaruyung. Diceritakan, terjadi adu kerbau antara Kerajaan Pagaruyung dan Kerajaan Majapahit, di mana Pagaruyung keluar sebagai pemenang, sehingga daerah tersebut dikenal sebagai Nagari Minangkabau.

Menurut legenda rakyat Sumatera Barat, pada zaman Kerajaan Majapahit, berdiri sebuah kerajaan bernama Pagaruyung. Raja Pagaruyung terkenal bijaksana dan selalu mempertimbangkan keselamatan rakyat dalam setiap keputusan yang diambil.

Suatu hari, raja Pagaruyung mendapat berita bahwa pasukan Majapahit dari Jawa telah tiba di perbatasan kerajaannya dengan niat menyerang. Mengingat kekuatan pasukan Majapahit yang sangat besar, raja Pagaruyung memutuskan untuk berunding demi menghindari pertumpahan darah.

Raja pun memanggil para panglima dan hulubalang untuk mendiskusikan situasi ini. "Para panglima, kita harus memikirkan strategi menghadapi pasukan Majapahit. Musuh tidak pernah dicari, dan kita harus bersiap menghadapi mereka jika perlu. Namun, mengingat kekuatan mereka, aku khawatir akan banyak korban di pihak kita. Aku ingin pendapat kalian," katanya.

Setelah mendengarkan berbagai pendapat, para panglima sepakat untuk menjamu pasukan Majapahit dengan baik dan mengusulkan adu kerbau sebagai cara untuk menyelesaikan konflik. Jika Majapahit kalah, mereka harus pulang dengan damai tanpa peperangan.

Raja kemudian memerintahkan putrinya, Datuk Tanteno Gerhano, untuk pergi menemui pasukan Majapahit dan menjamu mereka. Datuk Tanteno Gerhano adalah gadis yang lembut dan berbudi pekerti luhur, dan bersama dayang-dayangnya, ia berangkat membawa hidangan lezat.

Setelah disambut hangat oleh Datuk Tanteno Gerhano, pasukan Majapahit terkejut melihat sambutan yang ramah dan hidangan yang disajikan. Setelah menikmati makanan, mereka diundang untuk datang ke istana Pagaruyung.

Di istana, raja Pagaruyung menyambut mereka dengan baik. Panglima perang Majapahit menjelaskan bahwa mereka diutus untuk merebut kerajaan Pagaruyung, membuat suasana menjadi tegang.

Untuk menghindari pertumpahan darah, Raja Pagaruyung mengusulkan adu kerbau sebagai gantinya. Dia berjanji bahwa pasukan Majapahit akan aman dan dapat kembali tanpa gangguan. Setelah musyawarah, para panglima Majapahit menerima tawaran tersebut, dan mereka pun bersiap untuk adu kerbau.

Pasukan Majapahit memilih kerbau terbesar dan terkuat, sementara Pagaruyung memilih seekor kerbau muda yang masih menyusui, yang telah dipisahkan dari induknya selama tiga hari agar lapar. Besi tajam dipasangkan di kepala kerbau tersebut.

Hari adu kerbau tiba, dan kedua kerbau itu dihadapkan satu sama lain. Kerbau milik Majapahit terlihat besar dan kuat, tetapi kerbau Pagaruyung, yang masih kecil, berlari menghampiri kerbau Majapahit, mengira itu induknya. Dalam kebingungan, kerbau kecil itu melukai perut kerbau Majapahit dengan besi tajam.

Akhirnya, kerbau Majapahit jatuh tergeletak, dan para pendukung Pagaruyung bersorak gembira, meneriakkan "Manang Kabau!" yang berarti "Menangkan kerbau!" Pasukan Majapahit mengakui kekalahan mereka dan kembali ke Majapahit dengan damai.

Berita kemenangan ini menyebar, dan nama "Manang Kabau" menjadi terkenal. Seiring waktu, sebutan tersebut berubah menjadi "Minangkabau." Untuk memperingati peristiwa ini, warga Pagaruyung merancang rumah dengan atap berbentuk tanduk kerbau, yang dibangun di tempat putri Pagaruyung menjamu pasukan Majapahit. (DY)

Komentar