Cerita Rakyat 38 Provinsi, Sumatera Utara: Legenda Danau Lau Kawar di Bawah Kaki Gunung Sinabung

Divya Naila
17 September 2024 15:16 WIB

Sender.co.id - Pada zaman dahulu, terdapat sebuah desa yang sangat makmur di wilayah Kabupaten Karo, yang dikenal dengan nama Desa Kawar. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. Setiap tahun, hasil panen mereka selalu melimpah.

Suatu ketika, hasil panen mereka meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Lumbung-lumbung mereka dipenuhi padi, bahkan beberapa penduduk tidak memiliki cukup tempat untuk menyimpan hasil panen mereka. Sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah yang diberikan Tuhan, mereka bekerja sama untuk mengadakan selamatan dengan menyelenggarakan upacara adat.

Pada hari pelaksanaan upacara adat tersebut, Desa Kawar terlihat sangat meriah. Penduduk desa mengenakan pakaian berwarna-warni dan perhiasan yang indah. Para perempuan sibuk memasak berbagai hidangan yang akan disantap bersama dalam acara tersebut.

Upacara juga dimeriahkan dengan pertunjukan musik khas masyarakat Karo, yaitu 'Gendang Guro-Guro Aron'. Seluruh penduduk desa hadir dalam pesta yang hanya diselenggarakan setahun sekali itu, kecuali seorang nenek tua yang lumpuh.

Anak, menantu, dan cucunya juga turut merayakan acara tersebut, meninggalkan sang nenek yang merasa diabaikan dan lapar. Merasa kecewa karena tidak diperhatikan, nenek itu mengutuk anak-cucunya.

Tiba-tiba, terjadi gempa bumi yang sangat kuat. Langit mendung, petir menggelegar, dan hujan deras turun. Penduduk yang tadinya bergembira, seketika panik.

Teriakan minta tolong terdengar dari berbagai arah, namun mereka tidak bisa menghindar dari bencana alam yang dahsyat tersebut. Dalam waktu singkat, Desa Kawar yang makmur tenggelam. Tidak ada satu pun penduduk yang selamat. Beberapa hari setelah kejadian, desa itu berubah menjadi sebuah danau besar yang dipenuhi air.

Danau tersebut kemudian dinamakan 'Lau Kawar' oleh penduduk setempat. Danau ini terletak di bawah kaki Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Pesan moral dari cerita ini adalah pentingnya bersyukur, menghormati orang tua, dan tidak mengabaikan tanggung jawab. (DY)

Komentar