(Ilustrasi bakteri/istimewa)
Sender.co.id - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan penemuan strain bakteri super “hypervirulent” yang berpotensi membahayakan di 16 negara. Bakteri ini, yang dikenal sebagai hypervirulent Klebsiella pneumoniae (hvKp). Diketahui itu merupakan jenis bakteri yang resisten terhadap obat dan dapat menyebabkan infeksi mematikan, bahkan pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat.
K. pneumoniae umumnya dapat ditemukan di lingkungan seperti tanah dan air, serta di tenggorokan bagian atas dan saluran pencernaan berbagai hewan, termasuk manusia. Varian lama dari K. pneumoniae sudah menjadi masalah besar dalam perawatan kesehatan, karena bisa mencemari peralatan medis dan menyebabkan infeksi oportunistik, terutama pada orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
Dikutip kumparan.com bakteri ini dapat menyebabkan berbagai gejala, termasuk pneumonia, infeksi saluran kemih, infeksi aliran darah, dan meningitis. Varian lama dari K. pneumoniae telah menunjukkan resistansi terhadap antibiotik ampisilin dan beberapa obat lainnya dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, varian baru yang “hypervirulent” menunjukkan potensi ancaman yang lebih besar karena dapat menyebabkan infeksi parah pada orang yang sehat sekalipun. Infeksi hvKp dapat berkembang dengan cepat, memicu komplikasi serius, dan meningkatkan risiko kematian, menurut CIDRAP News dari University of Minnesota.
Galur hvKp pertama kali ditemukan di Asia pada 1980-an dan awalnya masih rentan terhadap berbagai antibiotik. Namun, galur ini kini telah menyebar secara global dan mengalami mutasi, menunjukkan resistansi terhadap berbagai antibiotik, termasuk carbapenems, kelas antibiotik yang sering digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri yang resistan.
Dr. Amesh Adalia, peneliti senior di Johns Hopkins University Center for Health Security, menyatakan bahwa kombinasi resistensi carbapenems dan sifat hypervirulent dari strain K. pneumoniae ini dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas akibat infeksi tersebut.
Secara global, prevalensi infeksi hvKp mungkin belum sepenuhnya terdeteksi karena keterbatasan pengawasan di beberapa negara. WHO mengingatkan agar negara-negara meningkatkan pengawasan dan penelitian tentang infeksi ini untuk melacak bakteri super dalam populasi serta untuk memilih pengobatan yang tepat.
Saat ini, 16 negara telah mendeteksi keberadaan hvKp, yaitu Aljazair, Argentina, Australia, Kanada, Kamboja, Hong Kong, India, Iran, Jepang, Oman, Papua Nugini, Filipina, Swiss, Thailand, Inggris, dan Amerika Serikat. Indonesia, sejauh ini, belum melaporkan keberadaan hvKp.
“Dengan kemunculan strain hypervirulent dan resistensi antibiotik, diperkirakan akan terjadi peningkatan risiko penyebaran strain ini baik di komunitas maupun di rumah sakit,” kata WHO. (DY)
Komentar