Ilustrasi sedot lemak
Sender.co.id
-
Perkembangan teknologi di bidang kecantikan dan perawatan tubuh kian pesat.
Salah
satunya adalah teknologi terkini untuk menghancurkan lemak dalam tubuh, karena
pada usia 35 thn ke atas, lemak di tubuh kita semakin susah untuk dihilangkan
karena metabolisme tubuh melambat.
Salah
satu teknologi terbaru untuk menghancurkan lemak adalah microwave slimming yang
diciptakan oleh BIOTEC ITALY.
Sesuai
namanya, teknologi tersebut menghasilkan gelombang mikro yang menembus lapİsan
subkutis pada kulit.
Mircowave
diaplikasikan pada area yang berlemak selama 20 menit saja, area yang disasar
misalnya pada area perut , lengan dan paha.
Gelombang
yang dirasakan cukup nyaman, terasa hangat di permukaan kulit.
Lemak
pun hancur menjadi butiran yang lebih kecil untuk kemudian dikeluarkan melalui
sekresi tubuh.
"Teknologi
ini masih sangat jarang digunakan bahkan baru ada satu di Indonesia,” kata dr
Christopher MKes AAAM, Master of antiaging and aesthetic medicine di Estine
Aesthetic Clinic, Rabu (11/9/2024).
Tidak
Butuh Anestesi
Karena
prosesnya yang nyaman. Dan yang mengesankan hasilnya terlihat dalam satu kali
tindakan.
Bergantung
pada jenis lemak ditiap individu.
"Ada
orang yang molekul lemaknya itu padat sekali, tapi ada yang lebih ringan,”
imbuh Christopher.
Untuk
hasilnya dapat diketahui dengan pengukuran menggunakan meteran penjepit lemak
atau lingkar dari area yang dikerjakan microwave
Dan
yang paling penting menurutnya teknologi tersebut aman dan tidak memiliki efek
samping.
Sebab,
tidak ada zat khusuş yang diinjeksikan ke dalam
Keunggulan
lainnya adalah teknologi itu juga dapat mengeluarkan oksigen murni saat proses
perawatan.
Oksigen
tersebut untuk membantu pengencangan kulit dan mengurangi stretchmark serta
selulit.
"Dua
sampai tiga kali sudah sangat terlihat hasilnya, tapi kalau mau pengulangan lagi juga aman,” tukasnya.
Untuk
periode perawatan dapat dilakukan dalam jangka waktu tiga hingga empat pekan.
Penurunan
massa lemak juga dapat dilihat dari turunnya berat badan.
Namun,
Christopher menegaskan jika berat badan tidak menjadi tolok ukur mutlak.
”Bisa
jadi berat badan tetap karena massa otot bertambah. Kalau mau akurat, bisa
dicek ditimbangan khusus,” ujarnya.
Namun
Christopher mengingatkan bahwa lemak yang dituju adalah lemak pada lapisan
bawah kulit, bukan lemak visceral, yakni lemak yang menempel pada organ.
Karena
itu perawatan tersebut tidak serta-merta diperuntukkan bagi pasien dengan
kondisi obesitas. (AL)
Komentar