Pertama Di Indonesia Teknologi Terbaru Menghancurkan Lemak Tanpa Anestesi

Sender Universe
13 September 2024 14:39 WIB

Sender.co.id - Perkembangan teknologi di bidang kecantikan dan perawatan tubuh kian pesat.

Salah satunya adalah teknologi terkini untuk menghancurkan lemak dalam tubuh, karena pada usia 35 thn ke atas, lemak di tubuh kita semakin susah untuk dihilangkan karena metabolisme tubuh melambat.

Salah satu teknologi terbaru untuk menghancurkan lemak adalah microwave slimming yang diciptakan oleh BIOTEC ITALY.

Sesuai namanya, teknologi tersebut menghasilkan gelombang mikro yang menembus lapİsan subkutis pada kulit.

Mircowave diaplikasikan pada area yang berlemak selama 20 menit saja, area yang disasar misalnya pada area perut , lengan dan paha.

Gelombang yang dirasakan cukup nyaman, terasa hangat di permukaan kulit.

Lemak pun hancur menjadi butiran yang lebih kecil untuk kemudian dikeluarkan melalui sekresi tubuh.

"Teknologi ini masih sangat jarang digunakan bahkan baru ada satu di Indonesia,” kata dr Christopher MKes AAAM, Master of antiaging and aesthetic medicine di Estine Aesthetic Clinic, Rabu (11/9/2024).   

Tidak Butuh Anestesi

Karena prosesnya yang nyaman. Dan yang mengesankan hasilnya terlihat dalam satu kali tindakan.

Bergantung pada jenis lemak ditiap individu.

"Ada orang yang molekul lemaknya itu padat sekali, tapi ada yang lebih ringan,” imbuh Christopher.

Untuk hasilnya dapat diketahui dengan pengukuran menggunakan meteran penjepit lemak atau lingkar dari area yang dikerjakan microwave

Dan yang paling penting menurutnya teknologi tersebut aman dan tidak memiliki efek samping.

Sebab, tidak ada zat khusuş yang diinjeksikan ke dalam

Keunggulan lainnya adalah teknologi itu juga dapat mengeluarkan oksigen murni saat proses perawatan.

Oksigen tersebut untuk membantu pengencangan kulit dan mengurangi stretchmark serta selulit.

"Dua sampai tiga kali sudah sangat terlihat hasilnya, tapi kalau  mau pengulangan lagi juga aman,” tukasnya.

Untuk periode perawatan dapat dilakukan dalam jangka waktu tiga hingga empat pekan.

Penurunan massa lemak juga dapat dilihat dari turunnya berat badan.

Namun, Christopher menegaskan jika berat badan tidak menjadi tolok ukur mutlak.

”Bisa jadi berat badan tetap karena massa otot bertambah. Kalau mau akurat, bisa dicek ditimbangan khusus,” ujarnya.

Namun Christopher mengingatkan bahwa lemak yang dituju adalah lemak pada lapisan bawah kulit, bukan lemak visceral, yakni lemak yang menempel pada organ.

Karena itu perawatan tersebut tidak serta-merta diperuntukkan bagi pasien dengan kondisi obesitas. (AL)

Komentar