Polisi Menyebut Pelaku Utama Pembunuh Siswi SMP di Kuburan Cina Palembang Jiwanya Tak Sehat

Diana Margarini
08 September 2024 14:25 WIB

Sender.co.id - Empat orang pelaku pembunuhan dan pemerkosaan siswi SMP berinisial AA (13) di Palembang, telah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian. Menurut hasil pemeriksaan sementara oleh dokter psikolog, diketahui kejiwaan pelaku utama berinisial IS (16) tidak sehat.

Korban ditemukan tewas di Kuburan Cina, TPU Talang Kerikil, Kecamatan Sukarami, Palembang, pada Minggu (1/9).

Kapolrestabes Palembang, Kombes Harryo Sugihhartono mengungkapkan, berdasarkan hasil observasi psikologis, ditemukan pertumbuhan jiwa dari pelaku utama IS, tak selayaknya anak seusianya.

"Hasil sementara pemeriksaan dari psikolog, ditemukan bahwa IS pertumbuhan jiwanya tak seperti anak seusia dia. Dia tidak dapat bergaul dengan anak sepantarannya," ujar Kombes Harryo, Sabtu (7/9).

Harryo mengatakan, hal itu membuat IS yang saat ini berusia hampir berusia 17 tahun itu memilih berteman dengan anak yang usianya di bawah dia. Alasannya, kata Harryo, agar anak-anak tersebut dapat dikendalikan.

"Jadi IS ini lebih memilih berteman dengan anak yang usianya di bawah dia agar dapat dikendalikan. Itulah mengapa, dia dapat mengajak pelaku lainnya (MZ, NS, dan AS) melakukan aksi keji tersebut," ujarnya.

Ia juga menegaskan, bahwa siswa SMA itu merencanakan dan melakukan aksinya dengan sadar. Tetapi, pelaku utama tersebut tidak merasa bersalah saat beraksi.

"Semua yang dilakukan tersangka dalam keadaan sadar. Namun secara kejiwaan, karena pertumbuhan jiwanya tidak sehat, dia tidak merasa bersalah," kata Harryo.

Psikolog Anak dari Rumah Sakit RK Charitas Palembang, Devi Delia mengatakan, karakteristik remaja masih dalam kondisi tak stabil karena faktor hormonal, seperti emosi masih fluktuatif atau labil.

"Mereka (remaja) kalau melakukan sesuatu lebih impulsif atau kurang memperhitungkan akibat jangka panjang perbuatannya. Bahkan mereka melakukan sesuatu dengan dorongan emosi," katanya, Rabu (5/9).

Devi juga mengungkapkan, faktor lingkungan berpengaruh pada tingkah laku seseorang. Karena rata-rata seorang remaja melakukan sesuatu dengan harapan ingin mendapatkan pengakuan. Salah satunya, ikut-ikutan melakukan hal yang salah. Padahal, mereka sudah mendapat ajaran moral dari rumah, tetapi, ia masih butuh pengakuan dari teman atau kelompoknya.

"Maka ia ingin melakukan hal itu seperti kejadian pemerkosaan dan pembunuhan ini, salah satu pelaku yang saya baca pamer dengan temannya padahal itu perbuatan yang salah," katanya.

Selain itu, Devi menyebutkan bahwa pengaruh media sosial juga cukup besar. Tidak hanya anak-anak, tetapi orang dewasa juga bisa terpengaruh. Maka dari itu butuh adanya pendampingan orang tua jika menonton konten apapun di media sosial. (DA)

Komentar