Kapolrestabes Palembang, Kombes Harryo Sugihhartono (Foto : detik/Sabrina Adliyah)
Sender.co.id - Empat orang pelaku pembunuhan dan pemerkosaan siswi
SMP berinisial AA (13) di Palembang, telah ditetapkan sebagai tersangka oleh
pihak kepolisian. Menurut hasil pemeriksaan sementara oleh dokter psikolog,
diketahui kejiwaan pelaku utama berinisial IS (16) tidak sehat.
Korban ditemukan tewas di Kuburan Cina, TPU Talang
Kerikil, Kecamatan Sukarami, Palembang, pada Minggu (1/9).
Kapolrestabes Palembang, Kombes Harryo Sugihhartono
mengungkapkan, berdasarkan hasil observasi psikologis, ditemukan pertumbuhan
jiwa dari pelaku utama IS, tak selayaknya anak seusianya.
"Hasil sementara pemeriksaan dari psikolog,
ditemukan bahwa IS pertumbuhan jiwanya tak seperti anak seusia dia. Dia tidak
dapat bergaul dengan anak sepantarannya," ujar Kombes Harryo, Sabtu (7/9).
Harryo mengatakan, hal itu membuat IS yang saat ini
berusia hampir berusia 17 tahun itu memilih berteman dengan anak yang usianya
di bawah dia. Alasannya, kata Harryo, agar anak-anak tersebut dapat
dikendalikan.
"Jadi IS ini lebih memilih berteman dengan anak
yang usianya di bawah dia agar dapat dikendalikan. Itulah mengapa, dia dapat
mengajak pelaku lainnya (MZ, NS, dan AS) melakukan aksi keji tersebut,"
ujarnya.
Ia juga menegaskan, bahwa siswa SMA itu merencanakan
dan melakukan aksinya dengan sadar. Tetapi, pelaku utama tersebut tidak merasa
bersalah saat beraksi.
"Semua yang dilakukan tersangka dalam keadaan
sadar. Namun secara kejiwaan, karena pertumbuhan jiwanya tidak sehat, dia tidak
merasa bersalah," kata Harryo.
Psikolog Anak dari Rumah Sakit RK Charitas Palembang,
Devi Delia mengatakan, karakteristik remaja masih dalam kondisi tak stabil
karena faktor hormonal, seperti emosi masih fluktuatif atau labil.
"Mereka (remaja) kalau melakukan sesuatu lebih
impulsif atau kurang memperhitungkan akibat jangka panjang perbuatannya. Bahkan
mereka melakukan sesuatu dengan dorongan emosi," katanya, Rabu (5/9).
Devi juga mengungkapkan, faktor lingkungan berpengaruh
pada tingkah laku seseorang. Karena rata-rata seorang remaja melakukan sesuatu
dengan harapan ingin mendapatkan pengakuan. Salah satunya, ikut-ikutan
melakukan hal yang salah. Padahal, mereka sudah mendapat ajaran moral dari
rumah, tetapi, ia masih butuh pengakuan dari teman atau kelompoknya.
"Maka ia ingin melakukan hal itu seperti kejadian
pemerkosaan dan pembunuhan ini, salah satu pelaku yang saya baca pamer dengan
temannya padahal itu perbuatan yang salah," katanya.
Selain itu, Devi menyebutkan bahwa pengaruh media
sosial juga cukup besar. Tidak hanya anak-anak, tetapi orang dewasa juga bisa
terpengaruh. Maka dari itu butuh adanya pendampingan orang tua jika menonton
konten apapun di media sosial. (DA)
Komentar