Rumah Peristiwa Rengasdengklok
Sender.co.id - Rengasdengklok dikenal
luas dalam sejarah Indonesia sebagai lokasi penting di mana peristiwa
penculikan Sukarno dan Hatta oleh para pemuda terjadi pada 16 Agustus 1945.
Peristiwa ini menjadi salah satu titik kritis dalam proses menuju Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia.
Rengasdengklok
merupakan salah satu lokasi penting dalam sejarah Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia. Ini sebuah kecamatan yang ada di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Pada
1999, Kecamatan Rengasdengklok dimekarkan
menjadi Kecamatan Kutawaluya dan Jayakerta . Hal itu
berdasarkan Perda Kabupaten Karawang Nomor
2 Tahun 2003. Adapun saat ini Kecamatan Rengasdengklok terdiri dari 9
desa dengan luas wilayah 33,46 kilometer
persegi dan berpenduduk kurang lebih 103 ribu jiwa.
Setidaknya
terdapat dua situs peringatan sejarah Rengasdengklok di Kecamatan
Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, yaitu Monumen Kebulatan Tekad
dan Rumah Bersejarah Rengasdengklok.
Dari
Kantor Camat Rengasdengklok, Monumen Kebulatan Tekad yang ada di Jalan Tugu
Proklamasi hanya berjarak tidak lebih dari 1,5 kilometer. Sedangkan Rumah
Bersejarah Rengasdengklok hanya berjarak tidak sampai 150 meter dari Monumen
Kebulatan Tekad.
Bisa
dikatakan, bahwa Sukarno dan Hatta akhirnya bersepakat dengan kelompok pemuda
tentang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Rengasdengklok ini.
Sebelumnya
Sukarno dan Mohamad Hatta, serta tokoh-tokoh lainnya menginginkan supaya
proklamasi ditetapkan melalui PPKI, sementara golongan pemuda menginginkan
supaya proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melewati PPKI yang diasumsikan
sebagai badan hasil bentukan pemerintah Jepang.
Pada
14 Agustus 1945, Soetan Sjahrir mendengar kabar dari radio bahwa Jepang
menyerah dari Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya. Sjahrir segera menemui
Sukarno dan Hatta untuk menyampaikan kabar tersebut. Saat itu, Sukarno dan
Hatta baru saja pulang dari Dalat, Vietnam, usai bertemu dengan pemimpin
militer tertinggi Jepang untuk kawasan Asia Tenggara, Marsekal Terauchi. Kepada
Sukarno-Hatta, Terauchi menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia.
Silang
pendapat pun terjadi di antara ketiga tokoh bangsa itu. Sjahrir meminta agar
kemerdekaan segera dideklarasikan. Namun, Sukarno dan Hatta yang belum yakin
dengan berita kekalahan Jepang, keduanya justru memilih menunggu kepastian sembari
menanti janji kemerdekaan dari Dai Nippon.
Sebagai
antisipasi hal tersebut, golongan muda melakukan penculikan supaya Sukarno dan
Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Bahwa kemerdekaan yang sebenarnya
merupakan hasil dari perjuangan bangsa Indonesia semata, bukan pemberian dari
Jepang.
Sehari
sesudah mendengar kabar kekalahan Jepang melawan sekutu, golongan pemuda
mengadakan suatu perundingan di Pegangsaan Timur Jakarta, pada 15 Agustus.
Dalam pertemuan ini diputuskan supaya pelaksanaan kemerdekaan dilepaskan dari
segala ikatan dan hubungan dengan perjanjian kemerdekaan dari Jepang.
Menghadapi
desakan tersebut, Sukarno dan Hatta tetap tidak berganti pendirian. Sukarno
merasa bertanggung jawab sebagai ketua PPKI. Sementara itu di Jakarta, Chairul
dan kawan-kawan sudah menyusun rencana merebut kekuasaan dan memproklamirkan
kemerdekaan. Tetapi apa yang sudah direncanakan tidak sukses dijalankan karena
tidak semua anggota PETA (Pembela tanah Air) mendukung rencana tersebut.
Untuk
lokasi, rencana awal proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia akan dibacakan
Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 di lapangan Ikada,
sekarang Lapangan Banteng, yang sekarang sudah menjadi lapangan Monas atau di
rumah Bung Karno di Jl.Pegangsaan Timur 56.
Akhirnya
dipilih rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No.56. Sebab kabar
pergelaran acara di lapangan Ikada sudah tersebar, bahkan beberapa
tentara-tentara Jepang sudah bersiap-siap, sebagai menghindari kericuhan.
Sementara
itu, segala persiapan kemerdekaan sudah beres. Termasuk teks Proklamasi yang
sudah disusun di Rengasdengklok, di rumah seorang Tionghoa bernama Djiaw Kie
Siong. Sementara itu, bendera merah putih sudah dikibarkan para pejuang di
Rengasdengklok pada Kamis, 16 Agustus 1945.
Di
waktu yang sama, Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang
ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Wikana dan
Mr. Achmad Soebardjo. Hasilnya Kunto dan Achmad Soebardjo ditugaskan ke
Rangasdengklok untuk menjemput Sukarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur untuk
membacakan proklamasi kemerdekaan. Keesokan harinya, tepatnya pada 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi
dikumandangkan oleh kedua proklamator, Sukarno - Hatta. (DY)
Sumber: tempo.co
Komentar