Sejarah Tupperware, Wadah Plastik Favorit yang Terancam Pailit

Divson
20 September 2024 07:35 WIB

Sender.co.id - Perusahaan pembuat peralatan rumah tangga, Tupperware, kini terancam kebangkrutan dan telah mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11.

Produk Tupperware sangat populer di kalangan keluarga, terutama di kalangan perempuan.

Bahkan, cinta seorang ibu kepada anaknya bisa sebanding dengan kecintaan mereka terhadap Tupperware, hingga sering kali emak-emak marah kepada anak mereka jika wadah atau botol minum dari merek terkenal ini hilang.

Meski menjadi favorit banyak ibu, Tupperware tak mampu bertahan dalam persaingan zaman. Perusahaan yang berasal dari Amerika Serikat ini kesulitan menghadapi pesaing yang menawarkan wadah penyimpanan dengan harga lebih terjangkau dan ramah lingkungan.

Berdasarkan dokumen kebangkrutan yang diajukan, Tupperware masih memiliki aset antara US$500 juta hingga US$1 miliar. Namun, utang mereka jauh lebih besar, berkisar antara US$1 miliar hingga US$10 miliar.

Tupperware Brands Corporation didirikan pada tahun 1946 oleh Earl Silas Tupper, seorang pengusaha yang lahir pada tahun 1907. Perusahaan ini telah terdaftar sebagai perusahaan publik di Bursa Efek New York (NYSE) dengan kode TUP.

Di situs resminya, Tupperware menyatakan bahwa mereka telah menjangkau lebih dari 80 negara, termasuk Indonesia, di mana terdapat lebih dari 150 ribu tenaga penjual independen di 203 lokasi kantor penjualan.

Tupperware dikenal karena obsesi mereka terhadap riset. Earl Silas Tupper bergabung dengan perusahaan riset pada usia 21 tahun dan menemukan cara untuk memurnikan ampas biji polyethylene menjadi plastik yang fleksibel, kuat, ringan, dan tidak berbau.

Sejarah Tupperware

Pada 1938, Tupper mendirikan usaha plastik miliknya sendiri bernama Earl S Tupper Company dan mematenkan produk dengan nama Poly-T. Ia kemudian memeriahkan pasar AS usai Perang Dunia II dengan meluncurkan produk pertamanya, yakni wadah penyimpan makanan Wonderlier Bowl dan Bell Tumbler dengan merek Tupperware.

Sejak saat itu popularitas Tupperware menggila, terutama di kalangan generasi perempuan pascaperang. Salah satu media promosinya adalah Tupperware Home Party yang pertama kali diperkenalkan oleh Brownie Wise.

"Diperkirakan hampir setiap 1,3 detik diselenggarakan Tupperware Party di salah satu sudut dunia," klaim Tupperware di situs resmi mereka, dikutip Kamis (19/9).

CEO Tupperware Laurie Goldman sempat mencoba menyelamatkan kebangkrutan ini. Mereka merestrukturisasi utang hingga menandatangani perjanjian dengan bank investasi Moelis & Co untuk membantu mencari alternatif strategis.

Sayang, upaya yang dilakukan pada 2023 itu tak cukup. Likuiditas perusahaan yang bermasalah membuat Tupperware ragu untuk terus bisa menjalankan bisnis.

"Selama beberapa tahun terakhir, posisi keuangan perusahaan sangat dipengaruhi oleh lingkungan makroekonomi yang menantang," kata Goldman dalam sebuah pernyataan.

Goldman Cs kini butuh persetujuan pengadilan mengenai perlindungan kebangkrutan. Jika disetujui, Tupperware akan terus menjual produknya sembari merencanakan proses penjualan bisnis mereka.

(DV)

Komentar