Perbandingan drone Shahed-136 dan LUCAS kembali disorot usai video penemuan drone di Irak viral di media sosial. (Grafis: Sender)
Sender.co.id - Perbandingan drone tempur Shahed-136 milik Iran dan LUCAS (Low-cost Uncrewed Combat Attack System) milik Amerika Serikat kembali menjadi sorotan publik, terutama setelah beredarnya video yang memperlihatkan warga di Irak menemukan sebuah drone yang diduga merupakan LUCAS.
Video tersebut viral di media sosial dan memicu berbagai spekulasi. Dalam rekaman itu, drone tampak berada di daratan dengan kondisi relatif utuh. Narasi yang beredar menyebut perangkat tersebut diduga gagal mencapai target atau mengalami gangguan teknis sebelum menjalankan misinya. Hingga kini, belum ada keterangan resmi yang memastikan detail insiden maupun penyebab pasti kejadian tersebut.
LUCAS merupakan drone serang sekali pakai atau loitering munition yang dikembangkan sebagai sistem berbiaya rendah untuk operasi militer jarak jauh. Drone ini mengusung desain delta-wing dan dirancang membawa hulu ledak untuk menyerang target secara presisi. Sistem navigasinya disebut berbasis GPS/INS dengan opsi tambahan link data dalam beberapa konfigurasi operasional.
Di sisi lain, Shahed-136 yang dikembangkan Iran juga menggunakan desain delta-wing dan dikenal luas dalam berbagai konflik modern. Drone ini memiliki jangkauan yang disebut mencapai ribuan kilometer dan mengandalkan sistem navigasi sederhana berbasis GPS/INS. Dalam sejumlah laporan internasional, Shahed-136 dinilai efektif sebagai sistem serangan massal berbiaya relatif rendah.
Perbandingan keduanya mencakup aspek jangkauan, muatan, sistem panduan, hingga metode peluncuran. Shahed-136 dikenal memiliki jangkauan lebih jauh, sementara LUCAS diklaim menawarkan fleksibilitas operasional serta kemungkinan integrasi sistem kendali tambahan.
Fenomena ini menegaskan bagaimana peperangan modern semakin mengandalkan teknologi tanpa awak. Drone loitering munition menjadi instrumen strategis karena biaya produksi yang lebih rendah dibanding sistem persenjataan konvensional, serta kemampuannya menjangkau target jarak jauh dengan risiko minimal terhadap personel.
Meski demikian, beredarnya video di Irak menunjukkan bahwa sistem secanggih apa pun tetap memiliki potensi kendala di lapangan. Otoritas terkait hingga kini belum memberikan klarifikasi resmi mengenai insiden tersebut, sehingga publik diimbau untuk menyikapi informasi yang beredar secara bijak dan tidak berspekulasi berlebihan.(dv)
Komentar