Asap dan kobaran api membubung akibat serangan udara Israel, di Rafah, Jalur Gaza. Foto: Dok. Reuters
Sender.co.id – Sedikitnya 18 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel yang menghantam sejumlah wilayah di Jalur Gaza pada Jumat hingga Sabtu, 1–2 Agustus 2026. Serangan terjadi ketika upaya diplomatik untuk memperkuat gencatan senjata kembali menjadi perhatian internasional setelah Amerika Serikat mengumumkan adanya kemajuan dalam pembahasan perdamaian.
Menurut laporan, serangan menyasar beberapa lokasi di Gaza City, Deir al-Balah, dan Khan Younis. Otoritas kesehatan Palestina menyebut korban berasal dari sejumlah keluarga yang berada di rumah, apartemen, hingga tenda pengungsian. Hari tersebut menjadi salah satu hari paling mematikan dalam beberapa pekan terakhir di wilayah Gaza.
Di Deir al-Balah, serangan dilaporkan menghantam lokasi yang menurut militer Israel digunakan oleh komandan Hamas. Sementara itu, serangan lain juga mengenai kawasan permukiman dan kamp pengungsian yang menampung warga sipil. Tim penyelamat terus melakukan pencarian korban di bawah reruntuhan bangunan.
Pemerintah Israel menegaskan belum ada kesepakatan yang mengharuskan penghentian operasi militer di Gaza.
Menteri Energi Israel Eli Cohen mengatakan pemerintah masih meragukan komitmen Hamas untuk melakukan pelucutan senjata sehingga operasi militer tetap dilakukan.
"Belum ada kesepakatan untuk menghentikan serangan," kata Eli Cohen, seperti dikutip Reuters.
Militer Israel menyatakan sejumlah serangan ditujukan kepada anggota Hamas yang dianggap mengancam pasukan Israel maupun terlibat dalam aktivitas militer.
Di sisi lain, Hamas menilai serangan tersebut menunjukkan Israel masih berupaya mengubah situasi di lapangan melalui kekuatan militer meski pembahasan perdamaian masih berlangsung.
Hamas menyatakan pihaknya telah menunjukkan fleksibilitas dalam pembahasan implementasi gencatan senjata, namun menuduh Israel terus melakukan operasi yang menghambat proses tersebut.
Utusan internasional untuk Gaza, Nickolay Mladenov, menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya kembali kekerasan dan menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri agar proses implementasi perdamaian tidak gagal.
Pernyataan itu muncul setelah Amerika Serikat merilis peta jalan (roadmap) implementasi gencatan senjata yang mencakup tahapan pelucutan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel secara bertahap, serta pembentukan pemerintahan sipil di Gaza. Namun hingga kini implementasi kesepakatan tersebut masih menghadapi berbagai perbedaan pandangan.
Sejak tercapainya gencatan senjata pada Oktober 2025, bentrokan dan serangan masih beberapa kali terjadi. Israel menyatakan operasi militer dilakukan untuk menargetkan kelompok bersenjata, sedangkan pihak Palestina menilai serangan tersebut terus menimbulkan korban sipil dan memperburuk kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza.
Hingga kini, berbagai negara dan organisasi internasional masih mendorong kedua belah pihak agar melanjutkan implementasi kesepakatan damai guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas. (it/dv)
Komentar