Sender.co.id - Islam di dunia dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dikenal oleh umat muslim di berbagai negara. Tentu saja, ada alasan kenapa diperingati hari Maulid Nabi Muhammad SAW oleh umat Muslim.
Sebagaimana dikutip dari situs Kementerian Agama (Kemenag) alasan kenapa Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati adalah sebagai bentuk penghormatan umat Muslim atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Melalui peringatan ini, umat Muslim saling menunjukkan rasa syukur dan suka cita atas kelahiran Rasulullah SAW yang sudah mengenalkan agama Islam.
Masyarakat Muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan selawat nabi, pembacaan syair Barzanji atau Simtuddurar, serta pengajian. Menurut penanggalan Jawa, bulan Rabiulawal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan Sekaten. Dan tradisi endhog-endhogan yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa-Using di Banyuwangi, Jawa Timur.
Arab Saudi dan Qatar adalah negara dengan penduduk mayoritas Muslim yang tidak menjadikan Maulid sebagai hari libur resmi. Partisipasi dalam ritual perayaan hari besar Islam ini umumnya dipandang sebagai ekspresi dari rasa keimanan dan kebangkitan keberagamaan bagi para penganutnya.
Seperti apa sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW? Simak ulasan menariknya sampai akhir, ya!
Sejarah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW diperkirakan sudah berlangsung sejak abad ke-10 silam. Peringatannya dimulai pada era Dinasti Fatimiyah, yaitu sebuah kerajaan yang dahulu berlokasi di antara Afrika Utara (Mesir) dan Timur Tengah.
Menurut Ulin Niam Masruri dalam Riwayah: Jurnal Studi Hadis (2018), orang pertama yang merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah seorang raja dari Dinasti Fatimiyah yang bernama Raja al-Muiz Li Dinillah. Al-Muliz Li Dinillah ini adalah seorang keturunan langsung Nabi Muhammad SAW dari garis keturunan Fatimah. Masa Pemerintahan Al-Muliz Li Dinillah ini berlangsung di antara abad 341-365 Hijriah atau 952-975 Masehi.
Kemudian, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW secara meriah pertama kali dilakukan oleh Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kaukabri ibn Zainuddin Ali bin Baktakin, yang diketahui menggelontorkan dana mencapai 300.000 dinar untuk bersedekah di peringatan Maulid Nabi.
Di sisi lain, para sejarawan menilai bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di era Dinasti Fatimiyah awalnya untuk keperluan legitimasi politik. Hanya saja, peringatan itu sempat dilarang beberapa saat sebelum Dinasti Fatimiyah berakhir. Pelarangan itu dilakukan oleh salah satu pemuka agama di Musta'il Billah yang mengkhawatirkan adanya bid'ah dalam perayaan hari ulang tahun Nabi dan anggota keluarganya.
Lalu setelah Dinasti Fatimiyah berakhir dan digantikan oleh Dinasti Ayyubiyah, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kembali dilaksanakan. Cara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di era Dinasti Ayyubiyah sangat berbeda dengan peringatan dinasti sebelumnya. Dinasti Ayyubiyah memperingati Maulid Nabi dengan cara yang lebih megah dan dalam jangka waktu lama. Menurut Ahmet Ozel dalam Mawlid: Its History and Religious Decision (2002) persiapan kerajaan untuk memperingati Maulid Nabi bahkan berlangsung selama berhari-hari.
Peringatannya dirayakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk juga para pelancong. Salah satu tradisi yang dilakukan saat Maulid Nabi oleh Dinasti Ayyubiyah itu adalah membuka rumah tempat kelahiran Nabi untuk umum. Hingga pada akhirnya banyak peziarah dari seluruh negeri yang datang berkunjung ke rumah kelahiran Nabi Muhammad setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Tradisi inilah yang kemudian diturunkan hingga ke dinasti-dinasti selanjutnya selama ratusan tahun. Tradisi ini juga diturunkan kepada kaum cendikiawan yang datang dari seluruh dunia ke Timur Tengah untuk belajar.
Banyak sekali kegiatan yang dapat dijadikan referensi. berikut ini beberapa contoh tema kegiatan maulid Nabi :
1. Peringatan Maulid
Nabi Muhammad SAW sebagai Sarana untuk Meningkatkan Literasi Keagamaan di Era
Digital
2. Tantangan Mental
Health Generasi Muda dan Perspektif dari Ajaran Rasulullah
3. Peringatan Maulid
Nabi SAW 1446 H: Memperdalam Rasa Cinta Pada Rasulullah SAW dengan Meneladani
Sifatnya dalam Kehidupan
4. Menamankan
Keteladanan Nabi Muhammad SAW demi Mencapai Tujuan Dunia Akhirat
5. Kepemimpinan Nabi
dalam Perspektif Modern dan Digitalisasi
6. Meneladani Akhlak
Nabi Muhammad SAW untuk Membangun Karakter Generasi Muda yang Religius
7. Menjadi Pemuda
Idaman Rasulullah dengan Meneladani Akhlaknya
8.
Peristiwa-peristiwa Penting di Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW
9. Meneladani Adab
dan Akhlakul Karimah Nabi dalam Menuntut Ilmu
10. Mengamalkan Cinta Nabi kepada Sesama, Keluarga, dan
bahkan Musuh
11. Tingkatkan Ukhuwah Islamiyah dalam Lingkungan Masyarakat
Melalui Peringatan Maulid Nabi
12. Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai Bekal untuk
Membangun Pribadi yang Unggul
13. Maulid Nabi 2024: Memaknai Kelahiran Nabi sebagai Bulan
yang Suci
14. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1446 H : Menanamkan
Jiwa Rasulullah di Hati Anak
15. Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai Kesempatan untuk
Refleksi dan Perbaikan Diri
16. Memperingati Maulid Nabi: Menebar Empati, Perkuat
Silaturahmi
17. Memaknai Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai Semangat
Ber-Islam di Era Disrupsi
18. Penguatan Nilai Keimanan untuk Membentuk Pribadi yang
Peduli dan Ringan Berbagi
19. Maulid Nabi: Kelahiran Cahaya Penerang bagi Dunia
20. Peringatan Maulid Nabi SAW 1446 H: Memperdalam Rasa
Cinta kepada Rasulullah dengan Meneladani Sifat-sifatnya dalam Kehidupan
21. Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai Momentum Dzikir dan
Sholawat Bersama
22. Keteladanan Akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai Landasan
Meraih Prestasi
23. Mengingat Kembali Perjuangan Dakwah Nabi yang Penuh
Penolakan di Makkah
24. Kehidupan Rasulullah: Suri Teladan Terbaik
25. Mengenang Kisah-kisah Hikmah dari Kehidupan Nabi
(BF)
Komentar