Kisah Faris Kuliah S1-S2 "Fast Track" UGM, Kini Lulus dengan IPK 3,93

Lucky Ferdianto
20 September 2024 02:29 WIB

Sender.co.id - Wisuda bukanlah akhir dari sebuah perjalanan bagi beberapa mahasiswa. Seperti cerita Muhammad Faris Al Rif’at, setelah lulus S1 ia langsung meneruskan kuliah S2 lewat program fast track di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Program fast track adalah program percepatan studi bagi mahasiswa jenjang sarjana (S1) langsung ke jenjang magister (S2) dengan persyaratan spesifik yang ditentukan oleh program studi.

Mengikuti program fast track, membuat mahasiswa bisa lulus S1 dan S2 sekaligus dalam waktu 5 tahun saja. Padahal normalnya, untuk menempuh S1 dan S2 dibutuhkan waktu tercepat antara 6-7 tahun.

Raih IPK 3,93

Dalam gelaran Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan periode IV Tahun Angkatan 2024/2025 pada 24-25 Agustus lalu, terdapat 82 wisudawan jalur fast track yang telah menyelesaikan program sarjana dan tengah melanjutkan kuliah ke jenjang pendidikan magister secara bersamaan.

Muhammad Faris Al Rif’at juga masuk dalam daftar itu. Ia mahasiswa dari prodi Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Kegembiraan tentu terukir dalam diri Muhammad Faris Al Rif’at.

Salah satu wisudawan yang meraih IPK 3,93 dalam program fast track dari Program Studi Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian. Sehingga ia mendapat gelar cumlaude.

Meski baru selesai wisuda S1, ia sudah terdaftar dan menjalani kuliah S2 di prodi Ilmu Hama Tanaman UGM.

“Mulai semester 7 di program sarjana, saat penyusunan skripsi, saya juga harus menjalani kuliah reguler untuk program magister. Senang sekali karena satu fase perjalanan pendidikan berhasil dilalui,” terang Faris, dikutip dari Kompascom.

Ia memulai program fast track atau akselerasi saat di semester 7 dan 8. Dalam waktu bersamaan ia juga menjalani kuliah mengambil 14 SKS di semester 1 dan 16 SKS di semester 2 pada program magister.

Harus pintar membagi waktu

Faris mengaku ia harus pintar-pintar membagi waktu antara kegiatan penelitian skripsi S1 dengan kegiatan kuliah reguler S2 program fast track.

“Tantangan terberat saat kuliah adalah menyesuaikan timeline waktu antara penelitian, kuliah program master, menjadi asisten peneliti dan praktikum, dan pembinaan asrama,” ungkapnya.

Meski begitu, Faris memiliki kiat khusus untuk mengatasi adanya tumpang tindih tersebut. Ia selalu mempersiapkan bahan bacaannya sebelum memulai kelas dan kemudian menetapkan fokusnya pada kelas serta memperbanyak diskusi.

“Menurut saya tidak ada yang berat. saya mengerjakan penelitian skripsi di sore atau sebaliknya, walau tidak jarang ketika weekend atau hari libur saya tetap harus ke kampus atau laboratorium untuk mengerjakan,” kenangnya.

Topik penelitian skripsinya soal lalat buah masih menjadi hama utama penyebab kerusakan dan menghambat ekspor pada buah salak.

Hasil penelitian skripsinya ini dilanjutkan pada penelitian tesis tentang pola perilaku serangan Lalat Buah pada buah salak dalam skala Lapangan.

Ia berharap, dari penelitian dasar di laboratorium dan penelitian skala lapangan ini dapat memberikan solusi permasalahan tersebut.

“Kita ingin dari penelitian ini dapat membantu petani khususnya petani buah salak,” ujarnya. (LF)

Komentar