Muhammad Faris Al Rif'at, mahasiswa fast track UGM berhasil lulus dengan IPK 3,93.(Foto : UGM)
Sender.co.id - Wisuda bukanlah
akhir dari sebuah perjalanan bagi beberapa mahasiswa. Seperti cerita Muhammad
Faris Al Rif’at, setelah lulus S1 ia langsung meneruskan kuliah S2 lewat
program fast track di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Program fast track adalah program percepatan studi bagi
mahasiswa jenjang sarjana (S1) langsung ke jenjang magister (S2) dengan
persyaratan spesifik yang ditentukan oleh program studi.
Mengikuti program fast track, membuat mahasiswa bisa lulus
S1 dan S2 sekaligus dalam waktu 5 tahun saja. Padahal normalnya, untuk menempuh
S1 dan S2 dibutuhkan waktu tercepat antara 6-7 tahun.
Raih IPK 3,93
Dalam gelaran Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan
periode IV Tahun Angkatan 2024/2025 pada 24-25 Agustus lalu, terdapat 82
wisudawan jalur fast track yang telah menyelesaikan program sarjana dan tengah
melanjutkan kuliah ke jenjang pendidikan magister secara bersamaan.
Muhammad Faris Al Rif’at juga masuk dalam daftar itu. Ia
mahasiswa dari prodi Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah
Mada (UGM). Kegembiraan tentu terukir dalam diri Muhammad Faris Al Rif’at.
Salah satu wisudawan yang meraih IPK 3,93 dalam program
fast track dari Program Studi Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian. Sehingga ia
mendapat gelar cumlaude.
Meski baru selesai wisuda S1, ia sudah terdaftar dan
menjalani kuliah S2 di prodi Ilmu Hama Tanaman UGM.
“Mulai semester 7 di program sarjana, saat penyusunan skripsi, saya juga harus
menjalani kuliah reguler untuk program magister. Senang sekali karena satu fase
perjalanan pendidikan berhasil dilalui,” terang Faris, dikutip dari Kompascom.
Ia memulai program fast track atau akselerasi saat di
semester 7 dan 8. Dalam waktu bersamaan ia juga menjalani kuliah mengambil 14
SKS di semester 1 dan 16 SKS di semester 2 pada program magister.
Harus pintar membagi waktu
Faris mengaku ia harus pintar-pintar membagi waktu antara
kegiatan penelitian skripsi S1 dengan kegiatan kuliah reguler S2 program fast
track.
“Tantangan terberat saat kuliah adalah menyesuaikan timeline waktu antara
penelitian, kuliah program master, menjadi asisten peneliti dan praktikum, dan
pembinaan asrama,” ungkapnya.
Meski begitu, Faris memiliki kiat khusus untuk mengatasi
adanya tumpang tindih tersebut. Ia selalu mempersiapkan bahan bacaannya sebelum
memulai kelas dan kemudian menetapkan fokusnya pada kelas serta memperbanyak
diskusi.
“Menurut saya tidak ada yang berat. saya mengerjakan
penelitian skripsi di sore atau sebaliknya, walau tidak jarang ketika weekend
atau hari libur saya tetap harus ke kampus atau laboratorium untuk
mengerjakan,” kenangnya.
Topik penelitian skripsinya soal lalat buah masih menjadi hama utama penyebab
kerusakan dan menghambat ekspor pada buah salak.
Hasil penelitian skripsinya ini dilanjutkan pada penelitian tesis tentang pola
perilaku serangan Lalat Buah pada buah salak dalam skala Lapangan.
Ia berharap, dari penelitian dasar di laboratorium dan
penelitian skala lapangan ini dapat memberikan solusi permasalahan tersebut.
“Kita ingin dari penelitian ini dapat membantu petani
khususnya petani buah salak,” ujarnya. (LF)
Komentar