16 Korban Meninggal dan Lebih dari 80 Luka-luka dalam Kecelakaan Kereta Bekasi Timur, DPR hingga Kemenhub Soroti Sistem Keselamatan

Divson
30 April 2026 09:42 WIB

Sender.co.id - Kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) menimbulkan korban besar. Peristiwa ini bermula dari insiden taksi yang tertemper KRL hingga membuat rangkaian berhenti lebih lama di jalur. Dalam kondisi tersebut, KA Argo Bromo Anggrek datang dari belakang dan menabrak rangkaian di depannya.

Akibat kejadian tersebut, tercatat sebanyak 16 orang meninggal dunia dan lebih dari 80 orang mengalami luka-luka. Para korban kemudian dievakuasi ke sejumlah rumah sakit di wilayah Bekasi dan Jakarta untuk proses identifikasi serta penanganan lebih lanjut.

Berikut identitas 16 korban meninggal dunia:

RS Polri Kramat Jati:

  1. Tutik Anitasari
  2. Harum Anjasari
  3. Nur Alimantun Citra Lestari
  4. Farida Utami
  5. Vica Acnia Fratiwi
  6. Ida Nuraida
  7. Gita Septia Wardany
  8. Fatmawati Rahmayani
  9. Arinjani Novita Sari
  10. Nur Ainia Eka Rahmadhyna

RSUD Kota Bekasi:

  1. Nuryati
  2. Nur Laela
  3. Engar Retno Krisjayanti
  4. Mia Citra

RS Mitra Bekasi:

  1. Adelia Rifani

RS Bella Bekasi:

  1. Ristuti Kustirahayu

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan maksimal. “Total korban luka lebih dari 80 orang dan saat ini masih dalam perawatan di berbagai rumah sakit. Kami juga menyiapkan dukungan psikologis bagi korban yang mengalami trauma,” ujarnya. Ia menambahkan, koordinasi antar fasilitas kesehatan terus diperkuat agar penanganan berjalan optimal.

Di sisi lain, Anggota Komisi VI DPR RI Firnando Ganinduto menilai insiden ini bukan sekadar kelalaian individu, melainkan indikasi kegagalan sistemik. “Sistem perkeretaapian modern seharusnya mampu mencegah kecelakaan meski terjadi human error,” ujarnya. Ia juga mendesak evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan, termasuk teknologi persinyalan dan pengamanan perjalanan kereta.

Wakil Ketua Komisi V DPR RI Saiful Huda turut menyoroti aspek teknis, khususnya sistem sinyal. “Saat KRL sudah berhenti di Stasiun Bekasi Timur, kenapa KA Argo Bromo Anggrek tidak menghentikan perjalanannya? Apakah ini persoalan sinyal atau kelalaian manusia,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Perhubungan melalui pernyataan resminya menyebut insiden ini akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi sektor perkeretaapian. Pemerintah memastikan investigasi terus berjalan bersama KNKT untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan, termasuk kemungkinan faktor teknis dan operasional.

Proses evakuasi sendiri berlangsung sejak malam kejadian hingga dini hari dengan melibatkan Basarnas, TNI, Polri, dan relawan. Di balik proses tersebut, muncul pula potret petugas yang kelelahan usai berjam-jam melakukan evakuasi, menjadi gambaran beratnya penanganan di lapangan.

Tragedi ini tidak hanya menyisakan angka korban, tetapi juga duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk melakukan pembenahan sistem keselamatan transportasi guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang. (wg/dv)

Komentar