Fakta Kanker Payudara
Sender.co.id - Ada berbagai jenis kanker yang bisa muncul di berbagai bagian tubuh, salah satunya kanker payudara. Kanker payudara menjadi jenis kanker dengan jumlah penderita terbanyak di Indonesia. Jika terdeteksi pada tahap awal dan mendapat penanganan yang tepat, peluang untuk sembuh menjadi lebih besar.
Mengutip dari IDN Times Sayangnya, kanker ini telah banyak memakan korban. Berdasarkan data dari Indonesian Journal of Breast Cancer, kanker payudara menjadi kanker dengan tingkat kematian terbesar pada perempuan Indonesia. Agar lebih terlindungi dari penyakit ini, simak deretan fakta kanker payudara berikut!
1. Kanker payudara paling banyak diderita perempuan
Indonesia
Kanker payudara adalah kondisi ketika sel-sel ganas tumbuh di jaringan
payudara. Biasanya, sel kanker mulai berkembang di saluran susu atau kelenjar
penghasil air susu. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ada 2,3 juta perempuan
yang didiagnosis kanker payudara pada 2020. Hingga akhir 2020, ada 7,8 juta
perempuan yang telah didiagnosis kanker dalam 5 tahun terakhir.
Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa kanker payudara menjadi kanker yang paling banyak diderita di Indonesia. Berdasarkan data Global Cancer Observatory pada 2020, jumlah kasus baru kanker payudara di Indonesia mencapai 68.858 kasus. Selain menempati urutan pertama kanker terbanyak, kanker payudara juga menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat kanker di Indonesia.
2. Kebanyakan kasus kanker payudara di Indonesia
terlambat terdeteksi
Walau merupakan kanker paling banyak di seluruh dunia, kanker payudara
termasuk jenis kanker dengan tingkat kesembuhan yang tinggi jika terdeteksi
dini dan ditangani dengan tepat, mengutip laman WHO. Namun, di Indonesia,
sebagian besar kasus kanker payudara terlambat terdeteksi. Menurut Elvida
Sariwati, Plt. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, 70
persen kasus kanker payudara baru terdeteksi pada stadium lanjut. Jika kanker
payudara bisa dideteksi pada tahap awal, kemungkinan kematiannya bisa lebih
rendah. Sekitar 43 persen kematian akibat kanker bisa dicegah jika pasien
menjalani deteksi dini rutin dan menghindari faktor risiko penyebab kanker.
Penanganan kanker yang terlambat juga menyebabkan biaya yang dikeluarkan makin
besar.
3. Faktor risiko kanker payudara
Penyebab pasti kanker payudara belum diketahui secara pasti. Namun, ada
beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan kemungkinan seseorang terkena
kanker. Faktor risiko kanker payudara yang tidak bisa diubah:
- Jenis
kelamin
Kanker payudara paling sering dialami perempuan. Meski begitu, sekitar 0,5 sampai 1 persen kanker payudara diidap oleh laki-laki. - Usia
Risiko kanker payudara makin meningkat seiring bertambahnya usia. - Riwayat
keluarga
Memiliki anggota keluarga dekat yang terkena kanker payudara dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Akan tetapi, sebagian besar perempuan yang didiagnosis kanker payudara tidak mengetahui riwayat keluarga terkait penyakit ini. - Mutasi
genetik
Mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 dapat meningkatkan risiko kanker payudara. - Faktor
hormonal
Faktor hormonal, seperti haid yang dimulai saat usia lebih muda dan menopause yang terlambat, dapat meningkatkan risiko kanker payudara.
Sementara, faktor risiko kanker payudara yang masih bisa diubah:
- obesitas.
- konsumsi makanan yang tidak baik untuk kesehatan,
- konsumsi minuman beralkohol,
- merokok, dan
- penggunaan kontrasepsi oral.
4. Metode SADARI untuk deteksi dini kanker payudara
Karena jumlah kasus kanker payudara cenderung meningkat, perlu upaya untuk mencegahnya. Kementerian Kesehatan telah melakukan program deteksi dini kanker payudara yang dikenal sebagai metode SADARI atau Pemeriksaan Payudara Sendiri. SADARI adalah pemeriksaan yang bisa dilakukan perempuan secara mandiri untuk mengetahui adanya benjolan atau kelainan pada payudara.
Dilansir Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan, tujuan SADARI adalah menemukan kanker payudara sedini mungkin sehingga pengobatan lebih optimal. SADARI merupakan cara termudah untuk mendeteksi kelainan pada ukuran, tekstur, dan bentuk payudara. Namun, kesadaran sebagian besar perempuan untuk melakukan SADARI masih rendah. Waktu yang tepat untuk melakukan SADARI adalah beberapa hari atau minggu setelah menstruasi. pada rentang waktu ini, kondisi payudara dalam kondisi normal. Sementara, pada masa sebelum dan saat menstruasi, payudara rentan membesar dan kencang karena adanya perubahan hormon.
Kanker Payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak diderita perempuan di Indonesia. Sayangnya, sebagian besar kasus kanker payudara di Indonesia terlambat terdeteksi. Deteksi dini merupakan langkah yang penting agar kanker payudara ditemukan lebih cepat dan bisa segera diobati. Jika mengalami gejala yang mencurigakan atau memiliki faktor risiko, segera berkonsultasi dengan dokter agar mendapat saran dan penanganan yang tepat. ( PL)
Komentar