Belut Jepang Berhasil Kabur Setelah Dimakan Ikan (Foto : Wikimedia Commons)
Sender.co.id - Di alam, banyak hewan yang mampu menghindari dari predator. Namun belut Jepang (Anguilla Japonica), bisa kabur bahkan setelah ditelan pemangsanya.
Dilansir dari Detikedu. Penelitian Yuha Hasegawa dan rekan-rekan di jurnal Current Biology membuktikan
belut Jepang dapat melarikan diri setelah ditelan ikan khas Asia Timur,
Odontobutis obscura. Buktinya terekam dalam sebuah video.
Cara Belut Jepang Lolos dari Perut Pemangsa
Memanfaatkan sistem video sinar-X, peneliti merekam aksi belut Jepang kabur
setelah ditelan ikan. Rupanya, kendati sebagian tubuh mereka sudah masuk ke
sistem pencernaan ikan, belut tersebut mencoba mundur ke arah kerongkongan dan
insang.
Belut tersebut memasukkan ujung ekornya melalui
kerongkongan, kemudian dilanjutkan ke insang, lalu menarik kepalanya keluar
dari saluran pencernaan ikan sampai bisa kabur sepenuhnya.
"Anehnya, setelah ditelan, sebagian besar individu
mencoba melarikan diri dengan kembali ke saluran pencernaan menuju kerongkongan
dan insang, dan beberapa dari mereka berhasil melarikan diri melalui insang
predator," tulis peneliti.
Dari 32 belut yang dapat ditelan ikan, 13 ekor (40,6
persen) di antaranya bisa mengeluarkan ekor dari insang dalam rata-rata 55
detik. Akhirnya, sembilan di antaranya berhasil melarikan diri.
Peneliti menemukan, belut Jepang juga menggunakan
macam-macam rute pelarian lewat insang. Kendati sepenuhnya terjebak di dalam
saluran pencernaan ikan, belut-belut tersebut masih tetap mencari jalan kabur.
"Beberapa belut, yang seluruh tubuhnya berada di dalam
ikan, menunjukkan perilaku berputar-putar di sepanjang dinding perut,
seolah-olah mencari kemungkinan rute pelarian. Percobaan elektro-anestesi
mengungkapkan bahwa belut memanfaatkan berbagai rute pelarian melalui celah
insang, bukan hanya satu," sambung peneliti.
Batas Waktu Kabur
Ikan Odontobutis obscura dan sejumlah ikan predator lainnya biasa makan dengan
cara membuka mulut lebar-lebar. Alhasil, mangsanya termakan bulat-bulat bersama
air yang tertelan oleh ikan tersebut.
Setelah masuk rongga mulut ikan, belut Jepang hanya punya
waktu kabur sebelum menetap di perut ikan. Jika sudah masuk area pencernaan
ikan, belut akan terjebak di area yang sangat asam dan tanpa udara. Akibatnya,
belut Jepang jadi kesulitan bergerak dan mati, rata-rata dalam waktu 211,9
detik.
Melihat Belut Kabur dengan Sinar X.
Untuk dapat memeriksa peristiwa tersebut, peneliti
menyuntikkan barium sulfat ke rongga perut dan ekor belut Jepang. Barium sulfat
lazim digunakan untuk membantu dokter memeriksa perut (lambung), kerongkongan,
dan usus menggunakan sinar X maupun pemindaian tomografi terkomputasi
(CT-scan), dikutip dari MedlinePlus NIH AS.
"Metode sinar X yang digunakan dalam penelitian kami dapat digunakan untuk
mengamati perilaku mangsa ini di dalam predator dan mengidentifikasi
organ-organ tertentu yang menjadi tantangan pada rute pelariannya," tulis
Hasegawa dan rekan-rekan.
Belajar Taktik Kabur Kebal Predator
Peneliti berpendapat, pengetahuan mengenai cara belut Jepang lolos dari perut
predator memberikan wawasan berharga tentang sifat-sifat kinematik, fisiologis,
dan perilaku yang penting untuk keberhasilan lolos.
Dari situ, manusia dapat belajar tentang evolusi taktik hewan kabur dari
predator meskipun sudah dimakan.
"Metode sinar-X yang digunakan dalam penelitian kami dapat diterapkan
untuk mengamati perilaku mangsa-mangsa ini di dalam seekor predator, dan
mengidentifikasi organ-organ spesifik yang menghambat jalurnya (dalam proses
melarikan diri)," kata peneliti. (LF)
Komentar