Budidaya Salak di Bali Diakui sebagai Warisan Pertanian Dunia oleh FAO

Divya Naila
23 September 2024 11:18 WIB

Sender.co.id - Kabar menggembirakan kembali datang dari Indonesia di level internasional. Kali ini, budidaya salak di Bali mendapat pengakuan istimewa dari Food and Agriculture Organization (FAO), badan PBB yang bergerak di bidang pangan dan pertanian. Pada Kamis (19/9/2024), di Roma, Italia, FAO secara resmi memasukkan sistem budidaya salak Bali ke dalam Globally Important Agricultural Heritage Systems (GIAHS) atau Sistem Warisan Pertanian Penting Global.

Dalam pengumuman resminya, FAO memilih Indonesia bersama Austria dan Sao Tome and Principe sebagai penerima pengakuan GIAHS tahun ini. Yoshihide Edo, Koordinator GIAHS, menyampaikan ucapan selamat kepada Indonesia dan menekankan pentingnya menjaga sistem warisan ini demi keberlanjutan dan kesejahteraan petani lokal.

Dengan pengakuan ini, Bali menjadi bagian dari 89 sistem warisan pertanian dari 28 negara yang diakui FAO di seluruh dunia. Budidaya salak di Bali, yang berpusat di Kabupaten Karangasem, telah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat setempat sejak abad ke-14. Mereka mengandalkan sistem subak, sebuah sistem pengairan tradisional yang mencerminkan filosofi Tri Hita Karana, menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Karangasem, daerah yang cenderung kering, dianggap kurang cocok untuk padi, namun buah salak berkembang dengan baik di sana. Sistem agroforestri yang digunakan, selain menghemat air dan menyerap karbon, juga memastikan seluruh bagian pohon salak dimanfaatkan sehingga tidak ada limbah.

Selain salak, masyarakat Karangasem juga menanam berbagai tanaman lain, seperti mangga, pisang, dan tumbuhan obat-obatan, sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan dan keberlanjutan pertanian mereka. Kombinasi antara kearifan lokal dan keberlanjutan inilah yang akhirnya membuat agroforestri salak Bali diakui sebagai Warisan Pertanian Penting Global oleh FAO. (DY)

Komentar