BMKG mengingatkan potensi gempa megathrust di Selat Sunda hingga magnitudo 8,9 yang dalam skenario pemodelan dapat memicu tsunami. Foto: Kompas.com
Sender.co.id – Potensi gempa megathrust di Selat Sunda kembali menjadi perhatian setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan skenario gempa hingga magnitudo 8,9 yang berpotensi memicu tsunami.
Berdasarkan data pemodelan yang dikutip dari BRIN, apabila skenario tersebut terjadi, gelombang tsunami diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam untuk mencapai pesisir utara Jakarta, dengan ketinggian sekitar 0,5 meter. Sementara wilayah pesisir Banten dan Jawa Barat berpotensi mengalami gelombang lebih dari 1,5 meter.
Namun, BMKG menegaskan angka tersebut merupakan potensi atau skenario ilmiah, bukan prediksi bahwa gempa akan terjadi dalam waktu dekat.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengatakan hingga saat ini belum ada metode ilmiah yang mampu menentukan secara tepat waktu, lokasi, maupun kekuatan gempa yang akan terjadi.
“Potensi tidak sama dengan prediksi bahwa gempa akan segera terjadi. Sampai saat ini belum ada metode ilmiah yang dapat menentukan secara tepat kapan, di mana, dan berapa besar gempa akan terjadi,” ujar Wijayanto.
Menurutnya, masyarakat tidak perlu mengubah informasi mengenai potensi megathrust menjadi kepastian bahwa bencana akan segera terjadi. Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kesiapsiagaan.
“Potensi gempa megathrust adalah fakta ilmiah yang harus kita hadapi dengan kesiapsiagaan, bukan dengan ketakutan,” kata Wijayanto.
Dalam skenario gempa besar tersebut, ancaman terhadap Jakarta bukan hanya berasal dari tsunami. Guncangan dengan intensitas sekitar 6–7 MMI juga berpotensi dirasakan di Jakarta.
Karakteristik tanah aluvial lunak di sejumlah wilayah Jakarta dapat membuat getaran terasa lebih kuat dan berpotensi memengaruhi struktur bangunan.
Pakar Komunikasi Risiko Kebencanaan Universitas Pertamina, Dr. Ir. Farah Mulyasari, mengingatkan agar informasi mengenai megathrust disampaikan dengan konteks yang jelas supaya tidak menimbulkan kepanikan.
“Masyarakat cenderung merespons ancaman berdasarkan kedekatan spasial, sehingga diperlukan strategi komunikasi yang mengkalibrasi ulang pemahaman mereka terhadap bahaya,” ujar Farah.
Farah menilai masyarakat perlu memahami hubungan antara potensi bahaya dengan lokasi tempat tinggal maupun aktivitas sehari-hari. Informasi teknis juga harus diterjemahkan menjadi langkah yang bisa dilakukan masyarakat, seperti mengetahui jalur evakuasi dan menyiapkan rencana komunikasi keluarga.
Di tengah ramainya pembahasan megathrust di media sosial, Farah juga meminta masyarakat tidak langsung percaya pada foto, video, maupun informasi dramatis yang beredar.
“Warga perlu kritis terhadap foto atau video dramatis yang beredar dan pastikan visual tersebut memiliki konteks dan cap waktu terkini, bukan dokumentasi dari bencana masa lalu,” jelasnya.
BMKG sendiri sejak sebelumnya telah menegaskan bahwa potensi Megathrust Selat Sunda merupakan informasi mengenai zona yang memiliki potensi gempa besar, bukan peringatan dini bahwa gempa akan segera terjadi. Sampai saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi secara akurat kapan, di mana, dan seberapa kuat gempa akan terjadi.
Karena itu, masyarakat diimbau tetap tenang tetapi tidak mengabaikan kesiapsiagaan. Mengenali jalur evakuasi, mengetahui titik aman, memperhatikan kondisi bangunan, menyiapkan tas darurat, serta mengikuti informasi resmi BMKG menjadi langkah yang lebih penting daripada mencoba menebak kapan gempa akan terjadi. (ra/wg)
Komentar