Fatah dan Hamas Rapat di Kairo Membahas soal Komite Gabungan

Tazkiya Fuadah
03 November 2024 21:09 WIB

Sender.co.id - Hamas dan Fatah dua faksi Palestina menggelar pertemuan di Kairo, Mesir, akhir pekan ini. Dalam pertemuan tersebut kedua faksi ini membahas tentang pembentukan komite gabungan guna memerintah di Jalur Gaza.

 

Pejabat senior Hamas dan Palestina itu juga membicarakan kemungkinan gencatan senjata dengan Israel, hingga memperluas akses untuk bantuan kemanusiaan internasional. Dikutip dari Reuters, Minggu (3/11),

 

Kepada Al Qahera News TV pada Sabtu (2/11) seorang pejabat keamanan Mesir yang tak mau identitasnya dibuka, mengatakan Mesir sedang bertujuan menyatukan barisan Palestina dengan memediasi pertemuan Fatah dan Hamas di Kairo.

 

Pejabat tersebut mengatakan dari pertemuan itu bisa ditargetkan terbentuk sebuah komite yang mengelola Gaza pascaperang.

 

"Baik Fatah dan Hamas menghargai langkah Mesir yang membentuk komite publik, meskipun ada tantangan dalam isu Palestina," tutur pejabat itu.

 

Dialog rekonsiliasi antara berbagai faksi Palestina, termasuk Fatah dan Hamas, sebelumnya berlangsung di Beijing pada periode 21 hingga 23 Juli.

 

Sebelumnya, pada bulan lalu juga akan digelar di Kairo. Akan tetapi pertemuan di Kairo pada bulan lalu itu ditunda hingga pada saat ini.

 

Mousa Abu Marzook Wakil Hamas yang juga menjadi delegasi faksi itu di Beijing beberapa waktu lalu, mengatakan deklarasi tersebut akan menjadi langkah yang bersejarah menuju rekonsiliasi dan pembentukan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya.

 

Di sisi lain, Israel yang wilayah pendudukannya mengepung Gaza dan Tepi Barat menolak Hamas sebagai kelompok yang memerintah di Gaza. Aksi agresi baik lewat serangan udara maupun darat ke Gaza sejak Oktober 2023 lalu dilakukan oleh Israel.

 

Ada lebih dari 43 ribu warga Palestina tewas akibat agresi Israel tersebut. Terbaru, Israel pun membuat undang-undang yang melarang badan PBB yang mengelola bantuan kemanusiaan dan pengungsi Palestina (UNRWA).

 

Hampir seluruh penduduk wilayah tersebut mengungsi di tengah blokade yang sedang berlangsung akibat serangan Israel, dan menyebabkan kekurangan parah terhadap makanan, air bersih, dan obat-obatan.

 

Israel juga menghadapi kasus genosida di Pengadilan Internasional atas tindakannya yang brutal di Gaza. (TF)

 

Komentar