Hacker China Dituding Amerika Menyerang Pejabat AS dan Keluarga Donald Trump

Tazkiya Fuadah
04 November 2024 04:16 WIB

Sender.co.id - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menuding hacker atau peretas yang terduga berafiliasi dengan China yang menargetkan sejumlah pejabat di pemerintahan AS, yakni Presiden dan Wakil Presiden, Joe Biden-Kamala Harris.

 

Anggota staf kampanye yang merupakan salah satu orang terdekat dari Kamala Haris menjadi sasarannya. Kamala Haris saat ini tengah maju sebagai calon Presiden AS melawan Donald Trump.

 

Peretas atau Hacker juga disebut tengah mengincar pakar diplomatik serta pejabat yang tidak begitu populer di tengah masyarakat, namun dinilai menarik oleh pejabat China yang ingin mempelajari bagaimana kebijakan internal AS.

 

Selain Kamala, hacker juga disebut menargetkan Donald Trump yang merupakan mantan Presiden AS sekaligus pesaing Kamala di Pilpres AS 2024.

 

Hacker juga sudah membobol sistem milik perusahaan telekomunikasi AS. Kemudian, mereka menargetkan smartphone yang dipakai oleh keluarga Trump termasuk putranya, Eric Trump dan menantunya Jared Kushner. berasal sumber dalam yang dikutip dari New York Times.

 

Sekitar 100 orang jumlah total sasaran yang sudah teridentifikasi. Soal data apa saja yang diambil peretas, pun kabarnya sudah teridentifikasi.

 

Eric Trump menanggapi insiden ini dengan menyalahkan pemerintahan Biden.

 

"Di bawah Kamala dan Biden, China telah menginjak-injak negara kita," ujarnya dikutip dari New York Times. 

 

Donald Trump juga dalan target

 

Insiden ini sendiri terjadi menyusul serangan siber yang memengaruhi smartphone Trump dan calon pasangan wakil presidennya, JD Vance pada pekan lalu.

 

Saat itu Tim Kampanye Trump menerima pemberitahuan bahwa ponsel yang dipakai Trump dan Vance termasuk dalam target serangan sistem telepon Verizon, salah satu operator seluler di AS.

 

Ada pun orang lain yang terdampak juga menerima notifikasi dari otoritas AS, termasuk Senator Chuck Schumer. Hingga saat ini terkait serangan siber masih terus dilakukan penyeledikan oleh FBI.

 

FBI berpendapat bahwa para peretas mungkin dapat mengakses pesan teks SMS yang tidak terenkripsi serta log panggilan pada perangkat yang terdampak.

 

Akan tetapi, ada juga bukti yang mengeklaim bahwa komunikasi audio pun terekam, meskipun belum jelas apakah audio yang dimaksud adalah percakapan dalam telepon atau pesan suara.

 

FBI masih merahasiakan siapa kelompok hacker di balik rentetan serangan ini. Namun sejumlah kelompok keamanan siber meyakini aksi ini terkait dengan kelompok hacker yang disebut Salt Typhoon. 

 

Sebab, Salt Typhoon sendiri memiliki riwayat operasi siber canggih yang menguntungkan intelijen China. Salt Typhoon di awal tahun ini membobol sistem telekomunikasi AS, sehingga meningkatkan kekhawatiran pemerintah setempat.

 

Namun Kedutaan Besar China di Washington membantah bahwa serangan itu didukung pemerintah China, dilansir dari CNN, Minggu (3/11/2024). Mereka juga menyebut bahwa informasi yang beredar adalah pemutarbalikan fakta atau distorsi. (TF)

 

 

Komentar