(Ilustrasi/DNyuz)
Sender.co.id - Debat perdana dan mungkin terakhir pemilihan presiden AS akhirnya dimenangkan Kamala Harris. Penilaian banyak pihak menunjukkan performa Harris yang lumayan mengejutkan hingga mampu menjebak capres Republik, Donald Trump dalam debat yang sangat dinantikan investor itu.
Namun
perjalanan capres dari Demokrat Kamala Harris dinilai masih terlalu jauh untuk
memenangi gelaran pilpres beberapa pekan ke depan. Di tengah masih sengitnya
pertarungan pilpres, pelaku pasar mendapatkan suguhan rilis data inflasi
terkini AS. Laporan menyebutkan, besaran inflasi AS yang sebesar 0,2 persen
pada Agustus lalu yang sesuai dengan ekspektasi pasar.
Rilis data inflasi tersebut sempat mengirim indeks Wall Street terjungkal dalam
koreksi curam, namun kemudian berhasil berbalik naik hingga menutup sesi dengan
kenaikan signifikan. Hingga sesi perdagangan ditutup, indeks Wall Street masih
kompak menginjak zona kenaikan dalam rentang bervariasi.
Indeks DJIA menguat moderat 0,31 persen di 40.861,71, indeks S&P500
melonjak 1,07 persen di 5.554,13, dan indeks Nasdaq melompat tajam 2,17 persen
di 17.395,53. Laporan dari jalannya sesi perdagangan menyebutkan, sikap pelaku
pasar yang berubah dalam menilai rilis data inflasi. Fokus pelaku pasar
disebutkan kini beralih ke prospek pertumbuhan ketimbang sebelumnya yang lebih
terarah pada penurunan suku bunga. Indeks Wall Street yang sempat runtuh di
pertengahan sesi akhirnya mampu berbalik menguat hingga perdagangan ditutup.
Sentimen positif dari Wall Street ini kemudian disambut dengan gembira pada
sesi perdagangan Asia pagi tadi, Kamis 12 September 2024. Seluruh indeks di
bursa saham Asia bahkan melonjak lebih curam hingga siang ini. Lonjakan indeks
di Asia bahkan terlihat tak memperdulikan sentimen kurang bersahabat dari rilis
data indeks harga produsen di Jepang.
Laporan lebih jauh menyebutkan, indeks Harga produsen untuk Agustus lalu yang
mencapai 2,5 persen atau di bawah ekspektasi pasar yang sebesar 2,8 persen.
Namun optimisme pelaku pasar terlihat tak terbendung hingga indeks Nikkei di
bursa saham Jepang terus melompat curam. Hingga siang ini, Indeks Nikkei
melambung 3,25 persen di 36.777,22. Lonjakan tajam juga terjadi di bursa saham
Korea Selatan dengan indeks KOSPI melompat 1,51 persen di 2.551,37, sementara
indeks ASX200 (Australia) naik 0,62 persen di 8.037,1.
Optimisme di sesi perdagangan Asia kemudian dengan mudah menjalar di bursa
saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat konsisten menapak
zona hijau di sepanjang sesi perdagangan pagi Ini. IHSG bahkan kembali mencetak
rekor tertingginya sepanjang sejarah dengan meninju posisi 7.833,27. IHSG
kemudian mengakhiri sesi pagi ini dengan melonjak 0,65 persen di 7.811,48.
Laporan lebih rinci dari jalannya sesi perdagangan di Jakarta menunjukkan,
kontribusi signifikan dari saham sektor batubara pada lonjakan IHSG kali ini.
Saham ADRO terpantau melambung curam 12,5 persen dengan berada di kisaran
Rp3.960. Saham batubara lainnya juga melonjak namun dalam rentang yang tak
terlalu mencolok. Seperti: ITMG naik 1,05 persen di Rp26.275, PTBA naik 3,0
persen di Rp2.740, UNTR naik 1,33 persen di Rp26.575, serta HRUM naik 4,26
persen di Rp1.345.
Kukuhnya optimisme kali ini diyakini akan berlanjut hingga sesi perdagangan
sore nanti. IHSG bahkan diyakini masih mampu menorehkan rekor tertinggi barunya
pada sesi perdagangan sore nanti, seiring dengan tiadanya sentimen negatif yang
muncul.
Situasi berlawanan terjadi pada Rupiah, di mana hingga siang ini masih terjebak
di zona pelemahan. Sentimen berlanjutnya keruntuhan nilai tukar mata uang utama
dunia menjadi dalang pelemahan Rupiah kali ini. Pantauan sebelumnya menyebutkan
gerak nilai tukar Euro, Poundsterling dan Dolar Australia yang kembali runtuh
meski dalam kisaran yang cenderung terbatas. Keruntuhan mata uang utama dunia
tersebut masih berlanjut hingga siang ini di sesi perdagangan Asia.
Akibatnya, pelaku pasar terseret untuk memburu Dolar AS hingga membuat Rupiah
terkoreksi. Pantauan juga memperlihatkan, gerak koreksi yang seragam menyeret
mata uang Asia meski berada di rentang moderat. Terkhusus pada Rupiah, gerak
melemah terlihat konsisten di sepanjang sesi perdagangan pagi ini. Hingga sesi
perdagangan siang ini berlangsung, Rupiah masih diperdagangkan di kisaran
Rp15.408 per Dolar AS atau melemah tipis 0,08 persen.
Secara keseluruhan, pelaku pasar kini menantikan rilis data indeks harga produsen (PPI) di Amerika Serikat dan keputusan bank Sentral Eropa menyangkut kebijakan moneter pada malam nanti waktu Indonesia Barat, untuk menentukan arah gerak selanjutnya. Namun tinjauan teknikal memperlihatkan, tren penguatan mata uang utama dunia yang masih berlaku, sebagaimana juga terjadi pada Rupiah. Dan gerak melemah pada dua hari sesi perdagangan terakhir terlihat sekedar koreksi teknikal usai melonjak tajam dalam beberapa hari sesi perdagangan sebelumnya. (VE)
Komentar