Pengadaan burung merpati dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana tercatat memiliki nilai mencapai Rp305,25 juta. Pengadaan tersebut menjadi sorotan setelah Indonesia Corruption Watch (ICW) mempertanyakan urgensi serta penggunaan anggaran tersebut. Foto : INAPROC
Sender.co.id – Pengadaan burung merpati dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana menjadi sorotan setelah nilai paketnya tercatat mencapai Rp305,25 juta dalam sistem pengadaan pemerintah INAPROC. Paket tersebut tercatat dengan nama “Pengadaan Burung Merpati Dalam Rangka Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI Tahun 2026” dan berstatus on process pada tahapan kontrak.
Temuan tersebut pertama kali disoroti Indonesia Corruption Watch (ICW) melalui akun Sahabat ICW. ICW mempertanyakan urgensi pengadaan tersebut, termasuk spesifikasi burung yang dibeli menggunakan anggaran negara.
“Kalau beli merpati dengan duit segitu, kira-kira merpatinya spek apa dan buat ngapain ya warga?” tulis Sahabat ICW dalam unggahannya.
Staf Investigasi ICW Azhim Syah mengatakan pengadaan tersebut dilakukan oleh Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) dan dimenangkan oleh Indoglobal Multi Karya. Menurutnya, pengadaan itu menjadi perhatian karena dilakukan ketika pemerintah tengah menjalankan kebijakan efisiensi anggaran.
“ICW menemukan adanya pengadaan burung merpati senilai Rp305 juta dalam rangka perayaan Kemerdekaan RI. Pengadaan dilakukan oleh Kementerian Sekretariat Negara yang dimenangkan oleh Indoglobal Multi Karya,” kata Azhim Syah.
Berdasarkan penelusuran data pengadaan yang beredar, nilai Rp305,25 juta merupakan nilai keseluruhan paket, bukan harga satu ekor burung. Data tersebut mencantumkan jenis Merpati Putih Mutiara Jambul dengan harga sekitar Rp349.650 per ekor. Jumlah pengadaan yang dihitung dari nilai tersebut mencapai sekitar 873 ekor.
Pengadaan tersebut dilakukan melalui mekanisme e-purchasing. Pihak penyedia yang tercantum dalam data adalah Indoglobal Multi Karya. Meski demikian, rincian mengenai penggunaan, spesifikasi teknis secara lengkap, serta alasan kebutuhan jumlah burung tersebut belum dijelaskan secara terbuka oleh Kemensetneg dalam sumber resmi yang tersedia.
Sementara itu, Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro sebelumnya menjelaskan bahwa rangkaian Bulan Kemerdekaan HUT ke-81 RI memang dirancang secara kolaboratif oleh berbagai kementerian dan lembaga dengan melibatkan masyarakat. Beragam agenda disiapkan, mulai dari upacara, pesta rakyat, pertunjukan seni, drone show, video mapping, hingga kembang api.
“Perayaan Bulan Kemerdekaan tahun ini dirancang secara kolaboratif melalui kerja sama berbagai kementerian dan lembaga serta juga melibatkan partisipasi masyarakat seluas-luasnya,” ujar Juri.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sebelumnya menyatakan persiapan pelaksanaan upacara HUT ke-81 RI di Istana telah mencapai 99 persen menjelang 17 Agustus 2026. Ia menyebut seluruh aspek pelaksanaan diperiksa secara detail untuk memastikan rangkaian peringatan berjalan sesuai rencana.
“Dari hasil evaluasi dapat kami sampaikan bahwa insyaallah kami siap untuk nanti hari Senin memberikan yang terbaik kepada seluruh rakyat Indonesia,” kata Prasetyo.
Sorotan ICW terhadap pengadaan merpati tersebut kemudian memunculkan perdebatan mengenai transparansi dan efisiensi penggunaan anggaran negara untuk kegiatan seremonial. Namun, adanya paket pengadaan dan nilainya tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran hukum, sehingga diperlukan penjelasan lebih lanjut mengenai spesifikasi, kebutuhan, serta pelaksanaan kontrak tersebut.
Hingga saat ini, informasi mengenai pengadaan tersebut masih menjadi perhatian publik, sementara kegiatan HUT ke-81 RI di Istana telah berlangsung dengan berbagai rangkaian acara yang disiapkan pemerintah. (wg)
Komentar