Sulit Mengundurkan Diri dari Pekerjaan? Jepang Memiliki Agensi Khusus untuk Membantu

Divya Naila
02 September 2024 10:22 WIB

Sender.co.id - Jika Anda ingin berhenti bekerja tetapi merasa terlalu sulit untuk benar-benar meninggalkan perusahaan tempat Anda bekerja, Anda tidak sendirian. Banyak pekerja di Jepang merasakan hal yang sama, sampai-sampai mereka harus menyewa agen pengunduran diri untuk membantu mereka keluar dari pekerjaan yang terasa seperti jebakan.

Dikutip dari CNN Indonesia, Yuki Watanabe adalah salah satu pekerja di Jepang yang melakukan hal ini. Dia dulu menghabiskan 12 jam setiap hari bekerja keras di kantor, namun waktu tersebut masih dianggap singkat. Beberapa perusahaan menetapkan jam kerja 9 pagi hingga 9 malam dan menganggapnya sebagai waktu kerja minimum.

"Saya paling lambat meninggalkan kantor sekitar jam 11 malam," kata Watanabe, yang saat itu berusia 24 tahun.

Watanabe bekerja di sebuah perusahaan besar di bidang telekomunikasi dan pembayaran elektronik di Jepang. Tuntutan kerja yang tinggi di sana membuatnya mulai mengalami masalah kesehatan.

"Kaki saya gemetar dan saya mengalami masalah perut," ungkapnya. Watanabe menggunakan nama samaran ketika berbicara kepada CNN untuk melindungi masa depannya dalam dunia kerja.

Saat kesehatannya mulai terganggu, dia sadar harus segera berhenti dari pekerjaannya. Namun, budaya kerja di Jepang yang sangat hirarkis menjadi penghalang.

Meminta izin pulang lebih awal atau mengambil hak cuti saja sudah sulit, apalagi mengundurkan diri, yang sering dianggap sebagai tindakan tidak hormat kepada pemberi kerja. Banyak orang di Jepang yang memilih bertahan di satu perusahaan hingga pensiun.

Ada bahkan yang mengalami surat pengunduran diri mereka dirobek oleh atasan dan dipaksa untuk tetap bekerja. Ini juga yang membuat Watanabe semakin takut untuk mengundurkan diri.

Akhirnya, dia menemukan solusinya dengan meminta bantuan Momuri, sebuah agen pengunduran diri yang membantu karyawan pemalu untuk meninggalkan pekerjaan mereka.

Industri ini sebenarnya sudah ada sebelum pandemi Covid-19, tetapi popularitasnya semakin meningkat belakangan ini. Agen seperti Momuri mendorong karyawan Jepang untuk mempertimbangkan kembali karier mereka.

Menurut Shiori Kawamata, Manajer Operasional Momuri, hingga tahun 2023, mereka telah menerima hingga 11 ribu permintaan bantuan pengunduran diri dari klien. Momuri sendiri berarti "Saya Tidak Bisa Melakukan Ini Lagi" dan berbasis di Tokyo.

Dengan biaya 22 ribu yen atau sekitar Rp2,3 juta, mereka menjanjikan bantuan untuk karyawan yang ingin mengundurkan diri, bernegosiasi, bahkan merekomendasikan pengacara jika terjadi sengketa.

"Ada beberapa klien yang datang kepada kami setelah surat pengunduran diri mereka dirobek tiga kali oleh atasan yang tidak mengizinkan mereka berhenti," kata Shiori.

Kematian Akibat Bekerja Jepang sudah lama dikenal sebagai negara dengan budaya kerja yang sangat intens. Jam kerja yang panjang, tekanan dari atasan, dan rasa hormat yang tinggi terhadap perusahaan membuat banyak pekerja kelelahan.

Sejak 2017, lebih dari 370 perusahaan telah masuk daftar hitam. Stres di kalangan pekerja terbukti fatal, bahkan menyebabkan karoshi atau kematian akibat bekerja berlebihan. Bahkan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan melaporkan setidaknya ada 54 orang meninggal dunia akibat masalah pekerjaan. (DY)

Komentar