Mark Rutte Gantikan Stoltenberg Sebagai Pemimpin Baru NATO

Veridial
26 June 2024 17:16 WIB

Sender.co.id - Pakta Pertahanan Atlantik Utara, Aliansi Militer Barat (NATO) memilih Perdana Menteri Belanda Mark Rutte sebagai sekretaris jenderal baru di aliansi militer tersebut.

Rutte menyingkirkan saingan utamanya Presiden Rumania Klaus Iohannis. Pekan lalu Iohannis sudah menyatakan keluar dari persaingan lantaran gagal mendapat dukungan yang dibutuhkan.

"Pada Rabu, 26 Juni 2024, Dewan Atlantik Utara memutuskan menunjuk Perdana Menteri Belanda Mark Rutte sebagai Sekretaris Jenderal NATO berikutnya, menggantikan Jens Stoltenberg," kata NATO dalam pernyataan yang dirilis pada Rabu (26 Juni 2024), dilansir dari Anadolu Agency.


Mark Rutte akan mengambil alih jabatan Sekjen NATO pada 1 Oktober mendatang, ketika masa jabatan Stoltenberg berakhir setelah 10 tahun memimpin aliansi tersebut. Stoltenberg menyambut baik penunjukan Rutte dan mendoakan kesuksesannya.

"Mark adalah seorang transatlantik sejati, pemimpin kuat dan pembangun konsensus," tulis Stoltenberg di media sosial X.

Rutte lahir pada 14 Februari 1967, dan menjabat sebagai perdana menteri Belanda mulai 14 Oktober 2011.

Sekjen NATO bertugas memimpin rapat dan sering memandu konsultasi rumit di antara negara-negara anggota untuk memastikan aliansi, yang beroperasi berdasarkan konsensus, dapat berfungsi dengan lancar.

Sosok ini juga harus memastikan keputusan aliansi dilaksanakan dan berbicara atas nama semua anggota.

Beberapa kendala telah menghalangi Rutte untuk mengamankan jabatan tersebut, meski ia mendapat dukungan dari Amerika Serikat (AS) dan sebagian besar negara anggota besar lainnya, termasuk Jerman. Ia muncul sebagai satu-satunya kandidat setelah Presiden Rumania Klaus Iohannis mengundurkan diri pekan lalu.

Hongaria mencabut keberatannya awal bulan ini, setelah Rutte setuju bahwa Budapest tidak akan diwajibkan di masa mendatang untuk mengirim personel atau menyediakan dana untuk rencana dukungan baru bagi Ukraina. Tiap anggota NATO memiliki hak veto atas sejumlah proyek dan operasi aliansi.

Turki juga telah menyuarakan penentangan terhadap pencalonan Rutte, tetapi telah mencabutnya pada April lalu.

Diketahui, pada medio Januari lalu, Parlemen Turki meratifikasi upaya Swedia untuk menjadi anggota NATO pada Selasa waktu setempat. Keputusan diambil setelah 20 bulan permohonan Swedia "tak direstui" pemerintah Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Majelis umum Turki memberikan suara 287-55 untuk menyetujui permohonan Swedia. Artinya kini, 30 negara anggota NATO sudah menyetujui Stockholm bergabung dalam aliansi itu.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg juga menyambut baik langkah tersebut. Ia mendesak Hongaria untuk melakukan hal yang sama.

"Saya juga mengandalkan Hongaria untuk menyelesaikan ratifikasi nasionalnya sesegera mungkin," katanya menyebut negara anggota NATO lain yang belum menyetujui masuknya Swedia.

"Keanggotaan Swedia membuat NATO lebih kuat dan kita semua lebih aman," tegasnya.

Sebelumnya, Swedia dan Finlandia menerapkan kebijakan non-blok militer selama era Perang Dingin antara Uni Soviet dan Barat. Namun perang Rusia di Ukraina membalikkan perhitungan geopolitik dan membuat keduanya mencari perlindungan nuklir yang diberikan oleh blok pertahanan paling kuat di dunia. (*)

Tag

Komentar