Siswa SD di Lampung Tengah Meninggal Usai Tersedak Biji Kelengkeng dari Menu MBG

Wangga Lasmi Damayanti
23 September 2026 15:35 WIB

Sender.co.id – Seorang siswa kelas 3 SD Negeri 03 Poncowarno, Kecamatan Kalirejo, Kabupaten Lampung Tengah, Reyhan Arisyah Putra (9), meninggal dunia setelah tersedak biji buah kelengkeng yang menjadi bagian dari menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (22/9/2026).

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 07.40–08.30 WIB saat kegiatan sekolah berlangsung. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, Reyhan sedang mengonsumsi buah kelengkeng di ruang kelas sambil bermain dan berlari-larian bersama teman-temannya. Ia kemudian tiba-tiba tersedak dan memegang leher sambil meminta pertolongan.

Kasatreskrim Polres Lampung Tengah AKP M Prenanta Al Ghazali membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan kelengkeng yang dikonsumsi korban merupakan bagian dari menu MBG yang dibagikan di sekolah.

“Jadi sewaktu korban makan buah kelengkeng yang merupakan menu MBG di ruang kelas 3, korban sambil bermain lari-larian kemudian tersedak,” kata Prenanta.

Setelah tersedak, Reyhan sempat meminta bantuan kepada teman sekelasnya. Ia kemudian dibawa keluar kelas untuk mendapatkan pertolongan. Penjaga sekolah, Ahmad Surahman, disebut sempat memberikan pertolongan dengan menepuk punggung korban sebelum pihak sekolah melanjutkan penanganan.

Pihak sekolah kemudian membawa Reyhan ke Puskesmas Poncowarno yang berjarak sekitar 500 meter dari sekolah. Karena membutuhkan penanganan lebih lanjut, korban dirujuk ke RS Kartini Kalirejo. Namun, setelah mendapatkan perawatan, Reyhan dinyatakan meninggal dunia.

Kepala Kampung Poncowarno Heri Eliyanto mengatakan sebelum kejadian, guru pendamping telah mengingatkan para siswa agar makanan yang diterima dari program MBG dikonsumsi setelah kegiatan sekolah selesai. Namun, sejumlah siswa kemudian mengambil buah kelengkeng dan memakannya sambil bermain.

“Guru pendamping sudah mengawasi dan mengimbau agar makanan dikonsumsi nanti. Namun namanya anak-anak, begitu melihat kelengkeng mereka senang,” kata Heri.

Heri juga menjelaskan bahwa pihak sekolah langsung memberikan pertolongan setelah mengetahui kondisi korban. Menurutnya, guru-guru yang berada di lokasi tidak menunda proses penanganan dan segera membawa korban ke fasilitas kesehatan.

“Para guru langsung bergerak, tidak menunda sedetik pun. Karena Puskesmas hanya sekitar 500 meter dari sekolah, korban langsung dibawa ke sana,” ujar Heri.

Peristiwa tersebut kini dalam penanganan aparat kepolisian. Polres Lampung Tengah telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan meminta keterangan sejumlah saksi untuk mengetahui rangkaian kejadian secara lebih lengkap. Polisi juga menyebut keluarga korban menolak dilakukan autopsi terhadap jenazah.

Heri meminta masyarakat tidak terburu-buru menyalahkan pihak sekolah atas kejadian tersebut. Ia menyebut peristiwa itu sebagai musibah yang tetap perlu menjadi bahan evaluasi, terutama terkait pengawasan siswa ketika mengonsumsi makanan di lingkungan sekolah.

“Musibah ini bukan semata-mata kelalaian pihak sekolah. Tugas pokok guru adalah mendidik dan mengajar anak bangsa,” kata Heri. Ia menambahkan bahwa kejadian tersebut menjadi evaluasi bersama untuk meningkatkan pengawasan dan keselamatan anak ke depannya. (wg)

Komentar