Sebanyak 36 helikopter dari delapan negara dikerahkan untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Dukungan datang dari Australia, Rusia, Amerika Serikat, Ukraina, Selandia Baru, Laos, Vietnam, dan Kanada. Selain itu, Jepang turut menyiapkan tiga helikopter CH-47 Chinook untuk memperkuat operasi water bombing di Kalimantan. Foto: beautynesia
Sender.co.id – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia mendapat penguatan melalui dukungan armada udara dari berbagai negara. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat 36 helikopter dari delapan negara telah difasilitasi untuk membantu kegiatan pemadaman dan penanganan dampak karhutla.
Delapan negara tersebut yakni Australia, Rusia, Amerika Serikat, Ukraina, Selandia Baru, Laos, Vietnam, dan Kanada. Kemenhub juga telah menerbitkan 35 izin khusus penggunaan pesawat berregistrasi asing yang melibatkan 11 pemegang Air Operator Certificate (AOC).
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, membenarkan keterlibatan armada dari delapan negara tersebut. Menurutnya, pesawat asing difasilitasi untuk memperkuat kemampuan pemerintah dalam menangani karhutla di sejumlah wilayah Indonesia.
“Negara asalnya dari Australia, Rusia, Amerika, Ukraina, New Zealand, Laos, Vietnam, dan Kanada,” kata Lukman saat dikonfirmasi di Jakarta.
Lukman menjelaskan, dukungan Kemenhub dilakukan melalui percepatan proses perizinan, dukungan operasional, serta pengawasan keselamatan penerbangan. Pesawat yang telah mendapatkan izin khusus juga dapat dipindahkan ke wilayah lain apabila kebutuhan penanganan karhutla berubah.
Selain armada dari delapan negara tersebut, bantuan internasional juga datang dari Jepang. Pemerintah Jepang menyiapkan tiga helikopter angkut berat CH-47 Chinook untuk mendukung operasi water bombing di wilayah Kalimantan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan bantuan Jepang tersebut dipersiapkan untuk memperkuat operasi pemadaman dari udara. Tiga helikopter tersebut direncanakan digunakan dalam misi water bombing mulai 10 September 2026.
“Beberapa waktu ke depan kita akan menambah tiga unit helikopter yang akan membantu water bombing di beberapa lokasi tentunya di Kalimantan,” ujar Berton.
Dukungan tersebut menjadi tambahan bagi armada nasional yang telah dikerahkan pemerintah. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto sebelumnya menyampaikan bahwa BNPB menyiagakan 30 helikopter untuk wilayah Kalimantan dan 22 helikopter untuk penanganan karhutla di Sumatera. Jumlah tersebut masih dapat ditambah sesuai kebutuhan di lapangan.
Suharyanto mengatakan pemerintah tidak hanya mengandalkan pemadaman melalui udara. Penanganan juga diperkuat dengan personel darat, alat pelindung diri, pompa air bertekanan tinggi, serta mobil tangki air untuk mendukung operasi pemadaman di daerah terdampak.
“Presiden memberikan perhatian penuh dan menginstruksikan agar kebutuhan operasional di lapangan dipenuhi. Jadi bukan hanya pemadaman dari udara, tetapi juga penguatan satgas darat, peralatan, pompa, mobil tangki, dan seluruh kebutuhan yang diperlukan untuk mempercepat pengendalian Karhutla,” jelas Suharyanto.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin membenarkan bahwa Jepang turut memberikan bantuan dalam penanganan karhutla di Indonesia melalui kerja sama pertahanan. Menurutnya, bantuan tersebut berupa pengiriman pesawat untuk membantu operasi pemadaman kebakaran di wilayah Indonesia.
Selain bantuan pemadaman, Malaysia juga disebut telah mendapat izin dari Indonesia untuk melakukan operasi penyemaian awan di sepanjang wilayah perbatasan kedua negara sebagai bagian dari upaya membantu penanganan karhutla.
Penguatan armada udara tersebut dilakukan seiring meningkatnya aktivitas karhutla terutama di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. BNPB juga kembali menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu meningkatkan peluang hujan di wilayah yang membutuhkan.
Dengan keterlibatan armada asing dan nasional, pemerintah berharap operasi pemadaman dapat dilakukan lebih cepat, terutama terhadap titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Penanganan juga diarahkan untuk mengurangi dampak asap terhadap masyarakat serta mencegah kebakaran meluas.
Keterlibatan negara-negara asing ini sekaligus menunjukkan adanya kerja sama lintas negara dalam menghadapi bencana karhutla yang berdampak terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan aktivitas sosial di wilayah terdampak. (wg)
Komentar