Jepang Mengajukan Ide Pembentukan NATO di Asia, Begini Tanggapan AS

Divya Naila
20 September 2024 15:36 WIB

Sender.co.id - Jepang telah mengajukan gagasan untuk membentuk aliansi militer ala NATO di Asia. Namun, Amerika Serikat (AS) menganggap bahwa usulan tersebut masih terlalu prematur. Menteri Pertahanan Jepang, Shigeru Ishiba, yang juga calon penerus Perdana Menteri Fumio Kishida, mengusulkan pembentukan "NATO versi Asia" untuk menyatukan berbagai pengaturan keamanan di kawasan menjadi pakta pertahanan formal. "Setidaknya, kita perlu memperdalam diskusi mengenai isu ini," ujarnya.

Di sisi lain, Daniel Kritenbrink, Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Asia Timur dan Pasifik, secara halus menolak usulan Ishiba dalam sebuah konferensi di Washington DC. “Terlalu awal untuk membahas keamanan kolektif dalam konteks tersebut dan untuk membentuk lembaga yang lebih formal,” jelas Kritenbrink, seperti dilansir Nikkei, Kamis (19/9/2024). “Fokus kami adalah berinvestasi dalam arsitektur yang sudah ada di kawasan dan membangun jaringan hubungan formal dan informal ini. Selanjutnya, kita akan lihat ke mana arahnya," tambahnya. Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya juga menegaskan bahwa "NATO Asia" bukanlah tujuan mereka di kawasan tersebut. Meskipun AS ingin menghindari pembentukan "aliansi bergaya blok militer" di Asia-Pasifik, Washington telah menghabiskan waktu bertahun-tahun membangun jaringan kemitraan dan perjanjian multilateral yang, menurut pandangan pesaingnya, terutama China, bisa dianggap sebagai langkah menuju terbentuknya "NATO Asia" secara de facto.

Pakta AUKUS antara Australia, Inggris, dan AS, serta Dialog Keamanan Quadrilateral yang melibatkan Australia, India, Jepang, dan AS, telah dikecam oleh China sebagai provokasi. Beijing juga mengkritik peningkatan kerjasama NATO dengan Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru, dengan juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyerukan agar para pemimpin blok tersebut menghentikan upaya menciptakan ketegangan dan mentalitas Perang Dingin di Asia-Pasifik.

Rusia, China, dan Korea Utara juga mengkritik perjanjian pertahanan AS dengan Korea Selatan dan Jepang, sementara latihan gabungan antara militer AS, Korea Selatan, dan Jepang terus meningkat baik dalam skala maupun frekuensi. "Latihan tersebut memiliki nada anti-Rusia dan anti-China," ungkap Georgy Zinoviev, kepala Departemen Asia Pertama Kementerian Luar Negeri Rusia. (DY)

Komentar